Simak! Mirae Asset Sekuritas Ungkap Kunci Stabilkan Pasar di Tengah Gejolak Global

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pemulihan kepercayaan investor di tengah tingginya volatilitas global tidak cukup hanya mengandalkan intervensi pasar. Faktor yang lebih penting adalah predictability kebijakan serta sinergi yang kuat antara kebijakan fiskal, moneter, dan energi.

Pandangan tersebut disampaikan Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, dalam forum ekonomi The Forum dan Investor Daily Round Table yang digelar di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Dalam paparannya, Rully menyoroti pergerakan IHSG sepanjang 2025 hingga awal 2026 yang sempat mencapai level all-time high (ATH). Menurutnya, kenaikan tersebut tidak sepenuhnya didukung fundamental ekonomi yang kuat, melainkan lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal terkait MSCI. Kondisi itu menciptakan diskoneksi antara pergerakan pasar saham dan kondisi makroekonomi riil

sehingga membuat pasar lebih rentan ketika tekanan eksternal meningkat.

Memasuki 2026, tekanan global semakin meningkat seiring lonjakan harga minyak mentah Brent dan

pelemahan rupiah yang bergerak di kisaran Rp17.270–Rp17.304 per dolar AS pada perdagangan Rabu (29/4/2026).

Mirae Asset Sekuritas menilai kondisi tersebut berpotensi membuat sejumlah asumsi makro pemerintah untuk kuartal II hingga IV 2026 meleset signifikan, terutama terkait asumsi nilai tukar dan harga minyak yang telah melampaui target APBN.

“Indonesia masih tumbuh positif, namun dengan adanya shock global ini, penyesuaian proyeksi harus dilakukan lebih cepat,” ujar Rully dalam keterangan resmi, Rabu (29/4/2026).

Dari sisi sektoral, Mirae Asset Sekuritas melihat sektor manufaktur menjadi salah satu sektor yang paling rentan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku berbasis plastik. Kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi diperkirakan akan meningkatkan biaya produksi secara signifikan, terutama bagi sektor packaging dan industri turunannya.

Di sisi lain, sektor komoditas seperti emas, logam, dan pertambangan, serta sektor telekomunikasi, dinilai masih memiliki ketahanan yang relatif lebih baik di tengah tekanan pasar saat ini.

Selain itu, Rully menilai langkah SRO (Self-Regulatory Organization) dalam meningkatkan transparansi

kepemilikan saham menjadi sentimen positif untuk memperkuat kepercayaan investor institusional asing dan MSCI terhadap pasar modal Indonesia.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa stabilitas pasar dalam jangka panjang tetap akan sangat ditentukan oleh koordinasi kebijakan yang konsisten, terintegrasi, dan dapat diprediksi antara otoritas fiskal, moneter, dan energi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

IHSG Naik 0,41% ke 7.101,226, IDXINDUST Naik Tertinggi 2,41%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Dibuka menguat di 7.096,609, Indeks Harga Saham Gabungan...

BCA Mulai Realisasikan Buyback Saham, Berakhir 11 Maret 2027

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Sehubungan dengan pembelian kembali saham PT...

Investor Protes Harga MTO Mandom Indonesia, Manajemen Buka Suara Soal Lonjakan Beban 4150%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Manajemen PT Mandom Indonesia Tbk (TCID)...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru