STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) Pasar keuangan global merespons positif kesepakatan awal antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik yang berlangsung hampir empat bulan.
Mengutip CNBC, kesepakatan tersebut diumumkan pada Minggu (14/6/2026) waktu setempat dalam bentuk nota kesepahaman atau memorandum of understanding. Meski belum ditandatangani secara resmi, kedua negara telah menghentikan aksi militer sementara.
Setelah pengumuman itu, pasar saham menguat. Sementara harga minyak dan imbal hasil obligasi turun.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan teks kesepakatan telah difinalisasi dan dijadwalkan ditandatangani pada Jumat (19/6/2026) di Jenewa, Swiss.
“Sebuah akhir perang yang permanen dan segera telah diumumkan di semua front,” kata Gharibabadi.
Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan blokade angkatan laut AS terhadap Iran akan dihentikan sebagai bagian dari kesepakatan tersebut.
Hingga Senin (15/6/2026), teks nota kesepahaman itu belum dipublikasikan. Informasi yang tersedia masih berasal dari pernyataan para pihak yang terlibat dalam perundingan.
Salah satu poin utama kesepakatan adalah rencana pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut belum resmi dibuka, namun Trump dan Gharibabadi menyatakan pembukaan akan dilakukan setelah penandatanganan kesepakatan di Jenewa.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyatakan Selat Hormuz akan dibuka tanpa pungutan biaya.
“Saya dengan ini sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa tarif dan secara bersamaan mengizinkan penghapusan segera blokade angkatan laut Amerika Serikat. Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!” tulis Trump.
Trump kemudian menambahkan pembukaan selat akan dilakukan setelah penandatanganan kesepakatan pada Jumat untuk keperluan pembersihan ranjau.
Sementara itu, kantor berita pemerintah Iran, Mehr, melaporkan pembukaan kembali Selat Hormuz tetap bergantung pada pengaturan yang dilakukan Iran.
Qatar pada Senin menyambut baik kesepakatan antara AS dan Iran, termasuk upaya menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Kesepakatan tersebut juga memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Masa itu akan digunakan untuk membangun kerangka negosiasi lanjutan terkait program nuklir Iran, sanksi, dan keamanan kawasan.
Gharibabadi mengatakan perundingan nuklir selama 60 hari hanya dapat dimulai jika AS mencairkan dana Iran yang selama ini dibekukan senilai miliaran dolar AS. Namun, klaim tersebut dibantah oleh pihak AS.
Trump kembali menegaskan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir.
“Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” ujar Trump.
Trump juga mengatakan kepada New York Times bahwa AS dapat kembali menyerang Iran apabila perundingan gagal menghasilkan penyelesaian terkait ambisi nuklir Teheran.
Analis Timur Tengah Verisk Maplecroft, Torbjorn Soltvedt, menilai risiko konflik masih belum sepenuhnya hilang.
“Ancaman konflik yang kembali muncul akan tetap ada dalam beberapa bulan mendatang. Menunda isu-isu paling sulit ke negosiasi berikutnya memperpanjang ketidakpastian dan membuat konfrontasi yang mendasarinya tetap belum terselesaikan,” kata Soltvedt kepada CNBC.
Israel belum menjadi pihak dalam kesepakatan tersebut. Negara itu terlibat dalam konflik sejak serangan pertama pada 28 Februari 2026.
Serangan Israel ke sejumlah target di Lebanon beberapa kali mengguncang gencatan senjata yang berlaku.
Sebelumnya, Gharibabadi mengatakan penghentian perang secara permanen dan segera juga mencakup Lebanon. Namun belum jelas apakah Israel menerima ketentuan tersebut.
Pada Senin, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan Pasukan Pertahanan Israel akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon, Gaza, dan Suriah.
Katz juga menegaskan Israel akan membalas jika Iran menyerang negaranya sebagai respons atas perkembangan di Lebanon.
Menjelang penandatanganan di Jenewa, Iran belum mengumumkan daftar peserta yang akan hadir.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang berperan penting dalam negosiasi yang dimediasi Pakistan, diperkirakan menjadi penandatangan utama dari pihak Iran.
Kehadiran Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dinilai dapat menunjukkan dukungan dari kalangan konservatif dan lembaga keamanan Iran.
Sementara itu, apabila Kepala Keamanan Senior Iran Mohammad Bagher Zolghadr hadir, hal tersebut dapat menjadi sinyal adanya persetujuan dari Pemimpin Tertinggi Iran.
Dari pihak AS, belum ada delegasi resmi yang diumumkan.
Wakil Presiden AS JD Vance disebut sempat dipertimbangkan untuk menghadiri seremoni penandatanganan apabila kesepakatan terwujud.
Trump juga berpeluang terbang langsung ke Jenewa setelah menghadiri KTT G7 di Evian, Prancis.
Utusan Gedung Putih Steve Witkoff, yang memimpin sebagian besar jalur negosiasi AS dengan Iran, juga diperkirakan ikut hadir.
Selain AS dan Iran, konflik tersebut turut melibatkan banyak negara lain.
Salah satu indikator penting yang akan diamati adalah kehadiran perwakilan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Kedua negara sempat terdampak dalam konflik tersebut.
Kehadiran perwakilan tingkat kabinet dari kedua negara itu dapat menjadi sinyal dukungan kawasan terhadap kesepakatan yang dicapai.
Sementara itu, pejabat Israel diperkirakan tidak akan menghadiri seremoni penandatanganan di Jenewa.

