back to top

Bursa Eropa Menguat di Awal Pekan, Saham Chip BESI Melonjak Lebih dari 7%

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada perdagangan Senin (12/1/2026) waktu setempat. Para investor tetap waspada memantau situasi geopolitik di Iran. Selain itu, pasar juga mencermati tekanan baru terhadap Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell.

Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir menguat 0,21% ke level 610,95. Sebagian besar bursa utama di kawasan tersebut parkir di zona positif. Indeks DAX Jerman memimpin penguatan sebesar 0,57% ke posisi 25.405,34.

Indeks FTSE 100 Inggris juga naik 0,16% ke level 10.140,70. Indeks IBEX 35 Spanyol tumbuh 0,14% ke posisi 17.673,80. Sementara itu, indeks CAC 40 Prancis terkoreksi tipis 0,04% ke level 8.358,76.

Saham BE Semiconductor Industries (BESI) menjadi bintang lapangan pada sesi kali ini. Saham perusahaan peralatan semikonduktor asal Belanda tersebut meroket 7,51%. Lonjakan ini dipicu oleh proyeksi pesanan kuartal keempat yang mencapai lebih dari 250 juta euro atau sekitar 292,2 juta USD.

Angka tersebut mencerminkan kenaikan 43% dibandingkan kuartal ketiga. Secara tahunan, nilai pesanan BESI melesat hingga 105%. Perusahaan berencana merilis hasil kinerja kuartal keempat secara resmi pada bulan depan.

Nasib berbeda dialami oleh saham Heineken. Saham produsen bir yang berbasis di Amsterdam ini merosot 4,14%. Penurunan tajam terjadi setelah CEO dan Chairman Heineken, Dolf van den Brink mengumumkan rencana pengunduran dirinya.

Dolf van den Brink akan resmi melepas jabatannya pada 31 Mei mendatang. Ia telah memimpin raksasa bir tersebut selama hampir enam tahun. Saat ini, dewan pengawas Heineken mulai mencari sosok penggantinya.

Di sektor bioteknologi, saham Abivax sempat melonjak hingga 30% di bursa Paris. Kenaikan drastis ini dipicu oleh rumor akuisisi yang beredar di pasar. Saham Abivax akhirnya ditutup menguat 5,05% setelah perdagangan sempat dihentikan sementara.

Kondisi pasar global juga dipengaruhi oleh kabar dari Amerika Serikat. Departemen Kehakiman membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell. Isu ini sempat menekan bursa saham AS saat pembukaan perdagangan.

Jerome Powell memberikan konfirmasi melalui pernyataan video pada Minggu malam. Jaksa federal sedang menyelidiki kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat. Penyelidikan ini terkait renovasi gedung kantor bank sentral AS.

Powell menyebut langkah hukum ini sebagai bentuk tekanan politik. Ia menegaskan sikapnya untuk tetap independen dalam menjaga kebijakan moneter. Masa jabatan Powell akan berakhir pada Mei tahun ini.

“Penyelidikan tersebut merupakan upaya lain dari Trump untuk memengaruhi kebijakan moneter bank sentral dan ia tidak akan tunduk pada tekanan tersebut,” ujar Powell.

Dari sisi geopolitik, investor terus memperhatikan situasi di Iran. Aksi protes besar-besaran di negara tersebut mendapat tindakan keras dari otoritas setempat. Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan berbagai opsi tindakan terhadap Iran, mulai dari langkah ekonomi, siber, hingga serangan militer.

- Advertisement -

Artikel Terkait

BEI Catat 37 Emisi Obligasi Raup Rp41,41 Triliun, Ada 20 Penerbitan Baru Masuk Pipeline

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat aktivitas...

Tiga Emiten Raup Rp3,75 Triliun dari Rights Issue, Satu Perusahaan Properti Masih Antre

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada...

BEI Catat 7 Perusahaan dalam Pipeline IPO, Sektor Keuangan Paling Dominan

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru