STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bank Indonesia (BI) menegaskan ekonomi dan keuangan syariah sebagai pilar strategis transformasi ekonomi nasional. Langkah ini ditempuh untuk menghadapi dinamika global, memperkuat ketahanan jangka panjang, serta mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam peluncuran Kajian Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (KEKSI) 2025, Kick-Off Bulan Pembiayaan Syariah (BPS) 2026, serta seminar Sharia Economic and Financial Outlook (ShEFO) 2026 di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (13/2).
Acara ini dihadiri pimpinan Komisi XI DPR RI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Ekonomi Kreatif, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), perbankan syariah, serta Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren).
Melalui Blueprint Ekonomi dan Keuangan Syariah (Eksyar) 2030, BI mendorong integrasi Halal Value Chain (HVC) dengan sistem pembiayaan syariah yang lebih dalam dan inovatif. Literasi dan inklusi juga diperluas untuk meningkatkan skala serta daya saing industri syariah nasional. Strategi ini diarahkan untuk memperkuat kontribusi sektor syariah terhadap pertumbuhan dan stabilitas ekonomi sekaligus mengakselerasi posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyampaikan sektor ekonomi dan keuangan syariah tetap tangguh di tengah ketidakpastian global. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional 2025 sebesar 5,11% (yoy), sektor HVC tumbuh 6,2% (yoy).
Pertumbuhan tersebut ditopang kinerja makanan dan minuman halal, pariwisata ramah muslim, serta modest fashion. Kontribusi HVC terhadap PDB naik 155 basis poin. Dari 25,45% pada 2024 menjadi 27% pada 2025.
Di sektor keuangan, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,66% (yoy) pada akhir 2025. Kinerja ini didukung insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Syariah sebesar Rp35 triliun atau 4,49% dari batas 5,5% per Desember 2025.
Program Bulan Pembiayaan Syariah 2025 juga mencatat realisasi Rp939 miliar. Angka ini 60% di atas target Rp589 miliar.
“Capaian ini menunjukkan daya tahan dan kontribusi nyata sektor syariah terhadap stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Destry.
Pemanfaatan instrumen lindung nilai syariah turut melonjak 86,5% (yoy) menjadi USD466 juta.
Di sektor keuangan sosial, penyaluran ZIS melalui BAZNAS hingga Triwulan II-2025 mencapai Rp52,5 triliun. Nilai ini naik 43% (ytd) dibandingkan 2024 sebesar Rp36,8 triliun.
Instrumen Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) juga tumbuh 22% (yoy). Outstanding pada akhir 2025 tercatat Rp1,4 triliun.
Literasi ekonomi dan keuangan syariah meningkat menjadi 50,18%. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan 2023.
Dari sisi industri jasa keuangan, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, melaporkan kinerja perbankan syariah sepanjang 2025 mencatatkan rekor tertinggi.
Total aset mencapai Rp1.067,73 triliun atau tumbuh 8,92% (yoy). Angka tersebut merupakan level tertinggi sepanjang masa (all time high). Pembiayaan mencapai Rp705,22 triliun atau naik 9,58% (yoy). Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp892,99 triliun atau tumbuh 10,14% (yoy).
OJK memandang tren positif ini berpeluang berlanjut pada 2026. Tetap ada kewaspadaan terhadap risiko geopolitik dan ketidakpastian global.
“Momentum ini menjadi modal penting untuk membangun industri perbankan syariah yang semakin resilient dan sustain,” ujar Dian.
Pada kesempatan sama, BI meluncurkan BPS 2026 sebagai wadah kolaborasi lintas kementerian, lembaga, dan industri keuangan syariah. Kick-Off BPS 2026 ditandai penandatanganan komitmen sinergi bersama 10 kementerian dan lembaga, termasuk BI, KNEKS, OJK, Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Koperasi, Kementerian UMKM, Kementerian Agama, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian ATR/BPN.
Tahun ini, BPS difokuskan untuk menjangkau UMKM, start-up, dan industri halal. Pelaksanaannya melibatkan perbankan syariah, Industri Keuangan Non-Bank syariah, serta sektor keuangan sosial syariah. Optimalisasi platform digital business matching juga diperkuat.
