STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street dibayangi awan mendung pada pembukaan perdagangan pekan ini. Indeks berjangka (futures) merosot tajam pada Minggu malam waktu setempat. Investor bereaksi negatif terhadap meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah penyitaan sebuah kapal kargo.
Mengutip laporan Fred Imbert dari CNBC International, indeks berjangka Dow Jones Industrial Average merosot hingga 425 poin atau 0,9%. Penurunan lebih dalam terlihat pada indeks berjangka S&P 500 dan Nasdaq-100 yang masing-masing terpangkas 8%. Koreksi tajam ini menghapus optimisme pasar yang sempat terbang tinggi pada pekan sebelumnya.
Presiden Donald Trump mengonfirmasi militer AS telah menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman. Langkah ini diambil setelah Iran menolak berpartisipasi dalam putaran baru pembicaraan damai di Pakistan. Padahal, pertemuan tersebut telah direncanakan oleh pihak AS untuk meredakan konflik.
Trump menjelaskan kapal tersebut masuk dalam daftar sanksi Departemen Keuangan AS. Melalui akun Truth Social miliknya, ia menegaskan kapal tersebut memiliki sejarah aktivitas ilegal. Saat ini, otoritas AS tengah memeriksa muatan di dalam kapal tanker tersebut secara menyeluruh.
“Kami memegang kendali penuh atas kapal tersebut, dan sedang melihat apa yang ada di dalamnya,” ujar Trump.
Ketegangan makin memuncak menyusul ancaman terbaru dari Gedung Putih. Trump mengancam akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik dan jembatan di Iran. Langkah ekstrem ini bakal diambil jika Teheran tidak segera menyetujui kesepakatan damai.
Situasi menjadi sangat genting mengingat masa berlaku gencatan senjata kedua negara akan habis pada pekan ini. Kegagalan negosiasi di Pakistan membuat pasar khawatir akan pecahnya perang terbuka. Investor kini cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman.
Kenaikan tensi geopolitik ini berdampak langsung pada pasar energi. Harga minyak mentah dunia melonjak dalam perdagangan awal. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melesat 7% ke level Rp USD 90,33 per barel. Minyak mentah Brent juga melambung 7% ke posisi Rp USD 96,88 per barel.
Padahal, Wall Street baru saja menikmati pekan yang sangat menguntungkan. S&P 500 dan Nasdaq Composite sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa. Hal ini terjadi setelah adanya kabar gencatan senjata antara Iran dan Lebanon pada beberapa hari lalu.
Saat itu, Iran sempat menyatakan Selat Hormuz telah dibuka kembali untuk lalu lintas kapal. Namun, situasi berubah drastis pada hari Sabtu. Lalu lintas kapal di jalur pelayaran vital tersebut kembali dibatasi oleh otoritas setempat.
Media pemerintah Iran menyebut langkah pembatasan diambil karena pihak AS melanggar janji. Mereka mengklaim pihak Amerika tidak memenuhi komitmen dalam proses perdamaian tersebut.
“AS tidak memenuhi kewajiban mereka,” lapor media negara Iran tersebut.
Trump sendiri bersikeras tetap mempertahankan blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz. Ia menegaskan blokade tidak akan dicabut sampai Iran menyetujui tuntutan Amerika. Sikap keras kedua pemimpin negara ini membuat ketidakpastian pasar makin meningkat.
Sepanjang pekan lalu, S&P 500 sebenarnya mencatatkan kenaikan solid sebesar 4,5%. Nasdaq Composite bahkan melonjak 7,2% dan membukukan kemenangan beruntun selama 13 sesi. Catatan positif Nasdaq tersebut merupakan yang terlama sejak tahun 1992.
Selain isu geopolitik, investor juga tengah menanti rilis kinerja keuangan emiten besar. Beberapa perusahaan raksasa dijadwalkan melaporkan laporan kuartalannya pada pekan ini. Nama-nama besar seperti Tesla, Boeing, dan Intel akan menjadi fokus perhatian pelaku pasar di tengah gejolak global yang sedang berlangsung.
