Tensi Geopolitik Memanas, Futures S&P 500 dan Nasdaq 100 Kompak Naik Tipis

STOCKWATCH.ID (NEWS YORK) – Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak fluktuatif pada perdagangan Senin malam (20/4/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (21/4/2026) WIB. Indeks Nasdaq Composite resmi menghentikan rekor kenaikan beruntun selama 13 hari terakhir.

Mengutip CNBC International, data pasar menunjukkan kontrak berjangka (futures) S&P 500 dan Nasdaq 100 naik tipis 0,1%. Futures Dow Jones Industrial Average juga menguat 71 poin atau 0,1%.

Koreksi pasar ini menyusul meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran pada akhir pekan. S&P 500 tercatat turun 0,24% pada sesi reguler. Dow Jones terpangkas 0,01%, sementara Nasdaq Composite merosot 0,26%.

Penurunan tersebut mematahkan tren positif terpanjang Nasdaq sejak 1992. Situasi geopolitik memanas setelah Presiden Donald Trump menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman.

Iran juga menyatakan penolakan untuk berpartisipasi dalam putaran baru pembicaraan damai dengan AS. Padahal, masa berlaku gencatan senjata kedua negara dijadwalkan berakhir pekan ini.

Meski tensi meningkat, sejumlah analis tetap optimistis terhadap prospek ekuitas ke depan. Ohsung Kwon, Chief Equity Strategist Wells Fargo, memprediksi pasar tetap berpotensi menguat hingga Juli mendatang.

Target indeks S&P 500 dipatok pada level 7.300. Angka ini mencerminkan potensi kenaikan sebesar 3% dari posisi penutupan Senin.

“Kami pikir ekonomi akan baik-baik saja selama tiga bulan ke depan,” ujar Kwon.

Para pelaku pasar kini menanti rilis laporan laba kuartalan sejumlah emiten raksasa pada Selasa. Daftar perusahaan tersebut mencakup UnitedHealth, Danaher, GE Aerospace, 3M, hingga Northrop Grumman.

Selain itu, data penjualan ritel periode Maret akan dirilis pada Selasa pagi. Pasar juga mencermati sidang konfirmasi calon Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh.

Dalam pernyataannya, mantan Gubernur The Fed ini menekankan pentingnya independensi bank sentral. Ia meminta bank sentral fokus pada tujuan utamanya tanpa mencampuri kebijakan fiskal atau sosial.

“The Fed harus tetap berada di jalurnya,” tegas Warsh.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

Era Baru Apple: John Ternus Resmi Jadi CEO Gantikan Tim Cook

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Raksasa teknologi Apple mengumumkan suksesi...

Tensi AS-Iran Memanas, Wall Street Terkoreksi dan Rekor Nasdaq Terhenti

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Tensi AS-Iran Kembali Memanas, Bursa Saham Eropa Tergelincir ke Zona Merah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru