STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) optimistis mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2026 dibanding tahun sebelumnya. Keyakinan itu didorong oleh selesainya proses penggabungan usaha dengan PT Eka Mas Republik yang efektif pada 22 April 2026.
Direktur Utama dan Chief Executive Officer PT Ekamas Mora Republik Tbk, Timotius Max Sulaiman, mengatakan penggabungan usaha tersebut menjadi salah satu momentum terbesar Perseroan pada tahun ini.
“Tentunya kami sangat optimis dengan pertumbuhan 2026. Seperti tadi sudah disampaikan dalam pemaparan bahwa 2026 ini banyak sekali momentum yang ada dan juga katalis-katalis yang mempercepat pertumbuhan ini, khususnya dengan efektifnya merger perusahaan Mora Republic ini,” kata Timotius dalam Paparan Publik Tahunan di Jakarta, Senin (15/6/2026).
Menurut Timotius, berbagai inisiatif strategis terus dijalankan pasca-merger untuk menciptakan sinergi dan mempercepat pertumbuhan bisnis Perseroan.
Pada 22 April 2026, Perseroan menyelesaikan penggabungan usaha dengan PT Eka Mas Republik sebagai bagian dari strategi memperkuat ekosistem infrastruktur digital nasional. Melalui aksi korporasi tersebut, Perseroan membentuk platform infrastruktur fiber optic terintegrasi berskala besar.
Setelah merger efektif, jumlah homepass gabungan Perseroan per 30 April 2026 meningkat menjadi lebih dari 12,7 juta homepass. Panjang jaringan fiber optic untuk backbone dan access mencapai lebih dari 166 ribu kilometer.
Selain itu, pelanggan ritel gabungan tercatat lebih dari 2,6 juta pelanggan, sedangkan pelanggan enterprise mencapai lebih dari 17 ribu pelanggan. Pada segmen Fixed Wireless Access (FWA), Perseroan telah mengoperasikan lebih dari 200 site FWA yang tersebar di 90 kota dan kabupaten di Indonesia.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, Perseroan menargetkan penambahan 5 juta homepass pada 2026. Jaringan Fiber to The Home (FTTH) juga akan diperluas hingga menjangkau 186 kota dan kabupaten.
Sejalan dengan ekspansi tersebut, Perseroan membidik penambahan 1,5 juta pelanggan baru sepanjang tahun ini.
“Di segmen retail, tadi seperti disampaikan bahwa kita akan menambah jumlah homepass cakupan kurang lebih 5 juta homepass dan ada tambahan paling tidak 1,5 juta subscribers,” ujar Timotius.
Ia menambahkan, dengan skala bisnis yang lebih besar setelah merger, Perseroan berpotensi menjadi salah satu pemain terbesar di industri layanan internet di Indonesia.
Selain memperluas jaringan akses pelanggan, Perseroan juga terus mengembangkan infrastruktur backbone. Salah satu proyek utama yang tengah dijalankan adalah Rising 8 yang menghubungkan Jakarta, Batam, dan Singapura.
Proyek tersebut menggunakan jaringan kabel fiber optic bawah laut sepanjang 1.128,5 kilometer dengan teknologi sistem repeater kabel bawah laut.
Timotius mengatakan segmen Jakarta-Batam dari proyek Rising 8 ditargetkan siap beroperasi pada Juni 2026.
“Di bulan Juni ini kita harapkan Rising 8 yang menghubungkan segmen Jakarta-Batam akan segera ready for service. Dan ini tentunya akan memperkuat jaringan backbone Perseroan,” kata Timotius.
Menurut dia, pengembangan Rising 8 akan dilanjutkan hingga Batam-Singapura untuk memperkuat kapasitas jaringan dan meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan.
Di sisi lain, Perseroan juga mempercepat pengembangan FWA sebagai pelengkap jaringan fiber optic. Strategi tersebut diharapkan dapat memperluas cakupan layanan internet ke lebih banyak wilayah di Indonesia.
Perseroan menargetkan pembangunan lebih dari 1.000 site FWA sebagai bagian dari rencana ekspansi pada 2026.
Terkait alasan merger, Timotius menjelaskan langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat kontribusi perusahaan terhadap transformasi digital nasional.
“Bagaimana kita bisa berkontribusi lebih lagi di dalam percepatan transformasi digital di Indonesia. Ini kita lihat menjadi sesuatu hal yang sangat baik kalau dua perusahaan ini digabungkan karena masing-masing perusahaan mempunyai strength yang berbeda,” ujar Timotius.
Ia menuturkan, Moratelindo memiliki kekuatan pada jaringan backbone yang luas, sedangkan MyRepublic unggul pada jaringan akses pelanggan atau last mile. Penggabungan kedua kekuatan tersebut dinilai mampu menciptakan kapasitas dan kapabilitas yang lebih besar.
“Ini menciptakan satu hal yang jauh lebih baik lagi dalam percepatan pengembangan dan juga dalam penetrasi pasar di Indonesia,” kata Timotius.

