Rupiah Melemah Tajam, Begini Strategi Mitigasi Bos Astra (ASII) dan BCA (BBCA)

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kini bergerak di kisaran Rp17.300 per USD. Pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah antara Iran – AS dan Israel.

Dua raksasa emiten di Bursa Efek Indonesia, PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), bersiap menghadapi risiko tersebut. Keduanya telah menyiapkan strategi mitigasi guna menjaga kinerja keuangan tetap stabil.

Presiden Direktur ASII, Rudy, mengakui fluktuasi nilai tukar berpengaruh langsung pada biaya produksi. Hal ini terjadi karena sebagian bahan baku industri otomotif masih bergantung pada impor.

Meski demikian, Astra memiliki tingkat kandungan lokal yang cukup tinggi pada produk kendaraannya. Strategi utama perusahaan terletak pada kekuatan ekosistem bisnis yang terintegrasi.

“Kita punya ekosistem yang cukup lengkap mulai dari manufacturing, distribution, retail dan lain sebagainya sehingga ketahanan kita lebih tinggi,” ujar Rudy dalam paparan publik usai RUPST di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Rudy menjelaskan keberadaan ekosistem dari hulu ke hilir tersebut memungkinkan perusahaan saling menyeimbangkan posisi keuangan. Dengan begitu, dampak kenaikan harga bahan baku bisa diminimalisir.

Di sisi lain, sektor perbankan juga tetap waspada terhadap risiko kredit akibat pelemahan Rupiah. Wakil Presiden Direktur BBCA, John Kosasih, menyebut kondisi portofolio kredit valuta asing (valas) BCA masih sangat aman.

Porsi kredit valas saat ini berada di bawah 5% dari total portofolio kredit perusahaan. Angka tepatnya menyentuh kisaran 4,9% saja. Menurut John, porsi yang kecil tersebut membuat dampak pelemahan kurs tidak terlalu signifikan bagi bank.

“Kondisinya saat ini masih terjaga dengan baik. Jadi apabila terjadi pelemahan rupiah ya tentu saja dampaknya pun juga tidak signifikan,” kata John dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

John menambahkan debitur yang bergerak di sektor ekspor justru mendapatkan berkah dari situasi ini. Pendapatan mereka dalam dolar Amerika akan bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke Rupiah.

“Kalau seandainya mereka adalah eksportir tentu saja dengan adanya pelemahan rupiah ini malah menguntungkan,” ulas John.

Walaupun beberapa pihak diuntungkan, para pengusaha tetap mengharapkan kondisi nilai tukar yang stabil. Stabilitas kurs dinilai lebih penting untuk kepastian perencanaan bisnis jangka panjang di lapangan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Kepala BP BUMN Apresiasi Kinerja Hutama Karya: Cetak Laba Rp3,09 Triliun dan Pangkas Utang 15,9%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) — PT Hutama Karya (Persero) mencatatkan kinerja...

Meskipun Penjualan Naik, Laba GUNA Susut 30,8% di Kuartal I 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Gunanusa Eramandiri Tbk (GUNA) membukukan...

Laba Bersih Bank Woori Saudara (SDRA) Susut 30,78% di Kuartal I 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru