Inflasi AS Kembali Menghantui, Bursa Saham Eropa Ditutup Melemah Tajam

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah tajam pada akhir perdagangan Jumat (15/5/2026) waktu setempat. Investor kembali dihantui kekhawatiran inflasi setelah data harga di Amerika Serikat (AS) menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan. Lonjakan harga minyak dunia turut menambah tekanan terhadap pasar modal kawasan tersebut.

Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham unggulan di Eropa turun 1,6% ke level 606,92. Hampir seluruh bursa utama di kawasan itu berakhir di zona merah.

Indeks CAC 40 Prancis merosot 1,60% ke posisi 7.952,55. FTSE MIB Italia anjlok 1,87% menjadi 49.116,47. FTSE 100 Inggris turun 1,71% ke level 10.195,37. DAX Jerman jatuh 2,07% ke posisi 23.950,57. Sementara itu, IBEX 35 Spanyol melemah 1,05% ke level 17.622,70.

Sektor pertambangan menjadi salah satu yang paling tertekan. Saham Antofagasta dan Fresnillo masing-masing ambles sekitar 10%. Penurunan ini terjadi seiring koreksi harga emas dan kenaikan harga minyak, di tengah memudarnya harapan akan terobosan dalam negosiasi perdamaian di Timur Tengah.

Di tengah pelemahan pasar, saham The Magnum Ice Cream Company justru melonjak lebih dari 8%. Perusahaan yang tercatat di Bursa Amsterdam itu menarik perhatian investor setelah muncul laporan bahwa Blackstone dan CD&R sedang mempertimbangkan akuisisi terhadap produsen es krim tersebut. Magnum resmi dipisahkan dari Unilever pada akhir tahun lalu.

Sentimen dari Inggris juga memengaruhi psikologis pasar. Perdana Menteri Keir Starmer menghadapi tantangan kepemimpinan dari rivalnya di Partai Buruh, Andy Burnham. Wali Kota Manchester itu berpeluang masuk ke parlemen setelah anggota parlemen Josh Simons mengundurkan diri.

Pelaku pasar menilai Burnham memiliki pandangan ekonomi yang lebih condong ke kiri, sehingga memicu kekhawatiran akan peningkatan belanja publik dan kebutuhan pembiayaan yang lebih besar. Pound sterling mencatat penurunan harian kelima berturut-turut terhadap dolar AS. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun naik ke level 5,185%.

Namun, peluang Burnham untuk memperkuat posisinya belum tentu mudah. Ia diperkirakan akan menghadapi tantangan dari Partai Reform UK yang tengah mengalami kebangkitan.

Sentimen negatif dari AS turut membebani pasar Eropa. Indeks harga produsen (PPI) AS pada April 2026 naik 1,4% secara bulanan, menjadi kenaikan terbesar sejak Maret 2022. Secara tahunan, PPI meningkat 6%.

Selain itu, indeks harga konsumen (CPI) AS pada April 2026 naik 3,8% dibanding periode yang sama tahun lalu. Kenaikan harga energi dan biaya tempat tinggal menjadi pendorong utama. Data ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Ketidakpastian pasar global juga meningkat setelah pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berakhir tanpa menghasilkan terobosan kebijakan yang signifikan. Kekecewaan investor memicu aksi jual di bursa Asia, yang kemudian merembet ke pasar Eropa dan Wall Street.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Future Wall Street Melemah, Pasar Menanti Laporan Nvidia dan Perkembangan Konflik Iran

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Indeks saham berjangka (future) Amerika...

Wall Street Memerah, Dow Jones Anjlok Lebih dari 500 Poin

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat (AS)...

Rekor Kospi Runtuh, Bursa Asia Memerah! Apa Penyebabnya?

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham Asia-Pasifik ditutup melemah pada...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru