STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Indika Energy Tbk (INDY) mencatatkan pertumbuhan laba bersih signifikan sepanjang tiga bulan pertama tahun 2026. Perseroan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD 7,0 juta.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi per 31 Maret 2026, capaian ini melejit 141% dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun 2025 sebesar USD 2,9 juta. Kenaikan laba ini ditopang oleh efisiensi biaya operasional dan kinerja positif anak usahanya.
Pendapatan perseroan mengalami kenaikan tipis 0,7% menjadi USD 493,2 juta pada Kuartal I-2026. Sebelumnya, pada periode yang sama tahun 2025, pendapatan tercatat sebesar USD 489,6 juta.
Kenaikan pendapatan didorong oleh meningkatnya kontribusi dari Interport Mandiri Utama (Interport) dan Indika Indonesia Resources (IIR). Interport mencatatkan kenaikan pendapatan 53,4% menjadi USD 43,1 juta karena bisnis perdagangan bahan bakar yang tumbuh.
Sementara itu, IIR mencatat pendapatan USD 13,0 juta atau naik 38,3%. Hal ini dipicu kenaikan harga jual rata-rata (ASP) perdagangan batu bara sebesar 88,3% menjadi USD 88,3 per ton untuk batubara kalori tinggi.
Anak usaha lainnya, Tripatra, juga menyumbang pendapatan sebesar USD 68,7 juta atau naik 11,2%. Proyek-proyek besar seperti APA Geng North dan LNG Abadi menjadi motor penggerak utamanya.
Di sisi lain, pendapatan dari Kideco menurun 5,7% menjadi USD 377,4 juta. Penurunan ini sejalan dengan turunnya volume penjualan sebesar 4,1% menjadi 7,0 juta ton dan harga jual rata-rata yang turun 1,7% menjadi USD 51,1 per ton.
Perseroan berhasil melakukan efisiensi dengan menekan beban pokok kontrak dan penjualan sebesar 1,6% menjadi USD 419,2 juta. Penurunan ini didorong oleh biaya tunai (cash cost) Kideco yang lebih rendah.
Hasilnya, laba kotor INDY naik 16,2% menjadi USD 74,0 juta. Margin laba kotor konsolidasi juga meningkat menjadi 15,0% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 13,0%.
Beban keuangan juga berhasil dipangkas 8,6% menjadi USD 16,0 juta. Hal ini terjadi karena penurunan biaya utang rata-rata perseroan.
Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy, Azis Armand menjelaskan kinerja ini menunjukkan daya tahan perusahaan. Langkah strategis terus diarahkan pada proyek masa depan.
“Indika Energy tetap menunjukkan ketahanan kinerja yang solid di tengah dinamika industri energi global,” ujar Azis dalam siaran pers dikutip Jumat (22/5/2026).
Terkait strategi diversifikasi, INDY mengalokasikan 100% belanja modal atau capex untuk sektor non-batubara. Total capex yang terserap mencapai USD 26,2 juta pada tiga bulan pertama tahun 2026.
Sebesar USD 20,4 juta digunakan untuk proyek tambang emas Awak Mas yang kini sudah mencapai 56,8% penyelesaian. Sisanya, sebesar USD 5,8 juta, dialokasikan untuk inisiatif bisnis hijau.
“Kami terus memperkuat transformasi bisnis melalui proyek tambang emas Awak Mas dan berbagai inisiatif bisnis hijau,” tambah Azis.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan perusahaan tetap relevan dengan transisi energi global menuju net-zero. Hingga 31 Maret 2026, total biaya yang telah direalisasikan untuk proyek Awak Mas mencapai USD 288,1 juta.

