STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Likuiditas perekonomian Indonesia atau uang beredar dalam arti luas (M2) terus menunjukkan tren positif. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi M2 pada April 2026 mencapai Rp10.253,7 triliun.
Jumlah tersebut tumbuh sebesar 9,2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Capaian ini melanjutkan pertumbuhan yang terjadi pada Maret 2026 sebesar 9,7% (yoy).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan perkembangan ini didorong oleh beberapa komponen. Uang beredar sempit (M1) tercatat tumbuh sebesar 13,6% (yoy). Sementara itu, uang kuasi mengalami pertumbuhan sebesar 4,7% (yoy).
Denny menyebut ada dua faktor utama yang memengaruhi perkembangan M2 pada April 2026. Faktor tersebut adalah tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan penyaluran kredit.
“Tagihan bersih kepada Pempus tumbuh sebesar 38,6% (yoy), setelah tumbuh 39,1% (yoy) pada Maret 2026,” ujar Denny di Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Di sisi lain, penyaluran kredit perbankan justru menunjukkan akselerasi. Pada April 2026, kredit tumbuh sebesar 9,4% (yoy). Angka ini meningkat jika dibandingkan pertumbuhan pada Maret 2026 yang sebesar 8,9% (yoy).
Penyaluran kredit yang dimaksud hanya dalam bentuk pinjaman (loans). Data ini tidak mencakup instrumen keuangan seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker’s acceptances), dan tagihan repo.
Selain itu, kredit ini tidak termasuk yang diberikan oleh kantor Bank Umum di luar negeri. Kredit yang disalurkan kepada Pemerintah Pusat dan bukan penduduk juga tidak masuk dalam perhitungan tersebut.
“Posisi M2 pada April 2026 tercatat sebesar Rp10.253,7 triliun atau tumbuh sebesar 9,2% (yoy),” kata Denny menekankan kembali data tersebut.
Kondisi likuiditas yang tetap tumbuh ini mencerminkan aktivitas ekonomi masyarakat masih berjalan dengan baik. Analisis lengkap mengenai statistik uang beredar ini dapat diakses melalui saluran komunikasi resmi Bank Indonesia.

