spot_img

Neraca Pembayaran Indonesia Defisit USD 9,1 Miliar Triwulan I 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat defisit sebesar USD 9,1 miliar pada tiga bulan pertama tahun ini. Meski demikian, posisi cadangan devisa Indonesia tetap menunjukkan angka yang kuat.

Hingga akhir Maret 2026, cadangan devisa tercatat sebesar USD 148,2 miliar. Nilai ini setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi tersebut berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang sekitar 3 bulan impor.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso menjelaskan transaksi berjalan juga mencatatkan defisit yang rendah. Nilainya mencapai USD 4,0 miliar atau 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Defisit transaksi berjalan tetap rendah di tengah perlambatan ekonomi global,” ujar Denny di Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Angka defisit ini meningkat tipis jika dibandingkan triwulan IV 2025 yang sebesar USD 2,5 miliar atau 0,7% dari PDB. Neraca perdagangan nonmigas masih membukukan surplus, meski pertumbuhannya melambat akibat gangguan rantai pasok global.

Di sisi lain, defisit neraca perdagangan migas tercatat menurun. Sementara itu, neraca jasa menunjukkan perbaikan karena penurunan impor jasa freight. Namun, defisit pendapatan primer meningkat akibat adanya kenaikan pembayaran kupon atau bunga.

Untuk transaksi modal dan finansial, kinerjanya tetap terkendali meski kondisi pasar global tidak menentu. Investasi langsung tetap mencatatkan surplus. Hal ini menunjukkan persepsi investor terhadap prospek ekonomi dan iklim investasi domestik masih sangat positif.

Investasi portofolio juga tetap surplus, walau nilainya lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Sebaliknya, sektor investasi lainnya mencatat defisit.

“Investasi lainnya mencatat defisit dipengaruhi oleh pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo serta penempatan kas dan simpanan, serta aset lainnya di luar negeri,” jelas Denny.

Secara keseluruhan, transaksi modal dan finansial triwulan I 2026 mengalami defisit USD 4,9 miliar. Padahal, pada triwulan sebelumnya sektor ini mencatat surplus hingga USD 9,0 miliar.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati dinamika ekonomi dunia. Bank sentral berkomitmen memperkuat sinergi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga ketahanan eksternal.

Kinerja NPI sepanjang tahun 2026 diprediksi akan tetap baik. Bank Indonesia memproyeksikan defisit transaksi berjalan tetap rendah pada kisaran 0,5% sampai dengan 1,3% dari PDB.

- Advertisement -

Artikel Terkait

DBS Prediksi BI Masih Berpeluang Kerek Suku Bunga hingga 5,75%, Singgung Potensi BBM Naik

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – DBS Bank memprediksi Bank Indonesia (BI)...

BI Catat Uang Beredar Tumbuh 9,2%, Kredit Perbankan Naik Jadi 9,4% pada April 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Likuiditas perekonomian Indonesia atau uang beredar...

Purbaya Ungkap Dua Mesin Ekonomi Kejar Pertumbuhan 8%, Rp200 Triliun Masuk Perbankan

STOCKWATCH.ID (YOGYAKARTA) – Pemerintah menyiapkan dua mesin utama untuk...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru