STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) berencana mengubah arah bisnis utamanya secara total. Perusahaan yang selama ini dikenal sebagai produsen makanan bayi tersebut akan beralih ke sektor telekomunikasi dan teknologi.
Langkah besar ini menyusul rencana pengambilalihan perusahaan oleh Saiko Consultancy Pte. Ltd. (Saiko) dari pengendali lama, PT Asia Intrainvesta (AI). Perubahan ini akan dilakukan melalui mekanisme inbreng atau pemasukan perusahaan milik Saiko ke dalam perseroan.
Direktur Utama HBS, Arief Banang Trinovan, menjelaskan bisnis makanan bayi tetap berjalan hingga proses transaksi selesai. Namun, setelah itu perseroan tidak akan melanjutkan lini usaha tersebut.
“Setelah proses tersebut selesai dilaksanakan, Perseroan akan melakukan perubahan kegiatan usaha ke bidang telekomunikasi dan teknologi dan tidak melanjutkan bisnis makanan bayi,” ujar Arief, dikutip Selasa (2/6/2026).
Arief memastikan tidak akan ada kekosongan pendapatan selama masa transisi. Perseroan juga akan menunjuk penilai independen untuk melakukan studi kelayakan. Hal ini bertujuan memastikan rencana perubahan usaha tersebut memberikan prospek baik bagi seluruh pemegang saham.
Terkait kinerja keuangan, perseroan mencatatkan rugi sebesar Rp4,29 miliar pada 2025. Padahal, pada 2024 perseroan masih mencetak laba Rp134,39 juta. Penurunan ini disebabkan kenaikan harga bahan baku dan karakter konsumen yang sangat sensitif terhadap harga.
Meski kinerja menurun di 2025, gaji Direksi tetap sebesar Rp660 juta dan Dewan Komisaris Rp180 juta. Angka ini sama dengan besaran gaji pada 2024. Menurut Arief, penyesuaian gaji baru mulai dilakukan pada tahun 2026.
Mengenai rencana pelepasan aset (divestasi), HBS akan menjual aset-aset yang sebelumnya dibeli menggunakan dana hasil penawaran umum (IPO). Total dana IPO yang telah direalisasikan antara lain untuk pelunasan tanah, pembangunan pabrik, dan pembelian mesin senilai Rp4,21 miliar dan Rp30 miliar.
Untuk menghindari kerugian bagi pemegang saham publik, harga jual aset akan mengacu pada nilai pasar dari penilai independen. “Perseroan akan memastikan nilai transaksi penjualan aset tidak lebih rendah dibandingkan nilai buku,” tegas Arief.
Saiko sebagai calon pengendali baru memiliki pengalaman di berbagai bidang teknologi. Beberapa di antaranya adalah Telecommunications, MVNO services, IoT platforms, digital payment systems, smart kiosk, hingga cloud-based infrastructure.
Arief menambahkan, Saiko sebelumnya sempat berencana mengambil alih PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE). Namun, rencana itu terkendala aturan lock-up saham selama 5 tahun. Hal ini yang membuat Saiko mengalihkan target akuisisinya ke HBS.
Dalam waktu 12 bulan ke depan, perseroan berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Agenda utamanya adalah meminta persetujuan pemegang saham untuk melakukan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue. Dana tersebut akan digunakan untuk proses inbreng perusahaan milik Saiko ke dalam perseroan.

