STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – MSCI belum menormalkan perlakuan terhadap saham Indonesia dalam review Agustus 2026. Sejumlah kebijakan pembekuan tetap diberlakukan, sementara keputusan lanjutan terkait status pasar Indonesia akan disampaikan sebelum review November 2026.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dikutip Selasa (7/7/2026), mengatakan keputusan tersebut menunjukkan Indonesia masih berstatus “dibekukan” untuk sejumlah aspek penting yang memengaruhi bobot saham dalam indeks MSCI.
Dalam review Agustus 2026, MSCI tetap membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS). Selain itu, MSCI juga tidak menambahkan saham Indonesia ke MSCI Investable Market Indexes (IMI) serta tidak melakukan upward migration antar-segmen ukuran saham, termasuk dari MSCI Small Cap ke MSCI Standard Index.
MSCI juga tetap menghapus saham yang masuk dalam kerangka High Shareholding Concentration (HSC). Mulai review ini, MSCI menggunakan data pengungkapan kepemilikan saham sebesar 1% untuk menyesuaikan estimasi free float apabila diperlukan.
MSCI akan memberikan informasi lebih lanjut mengenai perlakuan terhadap pasar Indonesia sebelum review November 2026.
Menurut Liza, keputusan tersebut berarti MSCI belum mengembalikan perlakuan normal terhadap saham Indonesia pada review Agustus.
“Indonesia masih diberi status ‘dibekukan’ untuk beberapa aspek penting yang biasanya bisa memengaruhi bobot saham dalam indeks,” katanya.
Ia menjelaskan pembekuan kenaikan FIF membuat saham yang seharusnya memperoleh kenaikan faktor free float asing belum dapat menikmati peningkatan bobot dalam indeks. Sementara pembekuan kenaikan NOS membuat perubahan jumlah saham yang seharusnya menaikkan bobot indeks juga belum diterapkan.
Tidak adanya penambahan saham Indonesia ke MSCI IMI membuat cakupan saham Indonesia dalam indeks MSCI belum bertambah. Di sisi lain, saham yang berpotensi naik kelas dari MSCI Small Cap ke MSCI Standard Index juga belum memperoleh kesempatan tersebut.
Liza menambahkan, penggunaan data kepemilikan saham 1% menunjukkan MSCI mulai melihat struktur kepemilikan secara lebih rinci untuk menyesuaikan estimasi free float apabila ditemukan konsentrasi kepemilikan yang tinggi.
Risiko Turun ke Frontier Market Berkurang
Kiwoom menilai risiko Indonesia turun dari status emerging market menjadi frontier market pada November 2026 telah menurun dibandingkan sebelum keputusan MSCI pada Juni lalu. Namun, risiko tersebut belum sepenuhnya hilang.
Menurut Liza, peluang Indonesia mempertahankan status emerging market masih terbuka. Meski demikian, MSCI diperkirakan tetap melakukan pengawasan ketat apabila implementasi reformasi pasar belum menunjukkan hasil yang kuat.
“Risiko terbesar bukan pada kurangnya regulasi baru, tetapi pada apakah regulasi itu benar-benar bisa mengubah perilaku pasar,” ujar Liza.
Ia menyebut sejumlah indikator yang menjadi perhatian, yakni peningkatan free float yang riil, penanganan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, penekanan transaksi yang tidak natural, keandalan data kepemilikan, serta implementasi reformasi yang terlihat dalam aktivitas pasar.
Sentimen Negatif Masih Bertahan
Kiwoom menilai keputusan MSCI masih memberikan sentimen negatif bagi pasar. Namun, kondisi tersebut bukan kejutan baru karena pelaku pasar telah memperkirakan MSCI belum akan menormalkan perlakuan terhadap Indonesia pada review Agustus.
Liza mengatakan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini lebih mencerminkan respons pasar yang menilai hasil review “tidak lebih buruk dari perkiraan”.
Menurutnya, risiko review Agustus sebagian besar telah tercermin dalam harga saham. Namun, risiko menjelang review November belum sepenuhnya diperhitungkan pasar.
Kiwoom memperkirakan hingga November atau akhir tahun, ruang penguatan IHSG masih terbuka apabila didukung saham-saham kapitalisasi besar, aksi buyback, pembagian dividen, maupun stabilitas nilai tukar rupiah.
Meski demikian, peluang rerating pasar dinilai masih terbatas karena investor asing berbasis indeks belum memiliki alasan kuat untuk meningkatkan eksposur sebelum terdapat kejelasan hasil review November.
Nilai Transaksi Masih Rendah
Kiwoom juga mencermati menyusutnya nilai transaksi di pasar saham. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan keyakinan pelaku pasar yang masih rendah.
Liza mengatakan kenaikan IHSG dengan nilai transaksi yang kecil menunjukkan penguatan indeks belum didukung partisipasi pasar yang kuat.
Menurutnya, sebagian dana kemungkinan beralih sementara ke instrumen yang lebih defensif seperti reksa dana pasar uang, deposito, obligasi pemerintah tenor pendek hingga menengah, dolar AS, maupun emas.
Di pasar saham, investor dinilai lebih memilih saham-saham kapitalisasi besar yang likuid, memiliki free float yang lebih jelas, tata kelola yang baik, neraca keuangan yang kuat, serta arus kas dan dividen yang stabil.
Saran untuk Investor dan Regulator
Kiwoom menyarankan investor tetap selektif dan tidak membeli saham hanya karena valuasinya murah. Strategi yang dinilai lebih tepat adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham berkualitas dan yang memiliki sentimen positif.
Investor juga disarankan memprioritaskan saham berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, free float yang jelas, dan risiko HSC yang rendah. Sementara trader masih dapat memanfaatkan peluang rebound dengan tetap disiplin karena pergerakan pasar masih dipengaruhi sentimen.
Untuk regulator, Kiwoom menilai fokus utama menuju review November adalah membuktikan implementasi reformasi, bukan sekadar mengumumkan kebijakan baru.
“Dalam satu bulan ke depan, akan sangat membantu jika regulator bisa menyajikan bukti before and after implementasi aturan baru,” kata Liza.
Ia menyebut bukti tersebut antara lain peningkatan free float pada saham bermasalah, tindak lanjut terhadap saham kategori HSC, investigasi atas indikasi konsentrasi kepemilikan dan transaksi tidak wajar, penggunaan data kepemilikan 1% secara konsisten, serta perbaikan nyata pada keterbukaan informasi, likuiditas, dan mekanisme pembentukan harga.
Liza menegaskan, peluang Indonesia mempertahankan status emerging market akan semakin besar apabila reformasi pasar dapat dibuktikan secara nyata sebelum review November 2026.

