STOCKWATCH.ID (JAKARTA)– PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) membukukan kinerja keuangan yang kuat sepanjang semester I 2026. Perseroan mencatat pendapatan bersih sebesar USD5,35 miliar, naik 83,6% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar USD2,91 miliar.
Kenaikan pendapatan didorong oleh bertambahnya skala operasi setelah akuisisi Aster Chemicals and Energy pada April 2025 serta jaringan SPBU bermerek Esso pada Januari 2026.
Berdasarkan laporan kinerja yang dirilis pada 29 Juli 2026, Chandra Asri Group membukukan EBITDA sebesar USD802,6 juta dan laba bersih sebesar USD371,2 juta pada semester I 2026.
“Group membukukan EBITDA sebesar USD 802,6 juta dan Laba Bersih sebesar USD 371,2 juta, yang mencerminkan kontribusi laba berkelanjutan dari platform terintegrasi di sektor Energi, Kimia, dan Infrastruktur,” tulis manajemen dalam keterangan resminya.
Segmen energi menjadi kontributor terbesar pendapatan dengan nilai USD3,33 miliar atau melonjak 184,4% dibanding semester I 2025 sebesar USD1,17 miliar.
Sementara itu, segmen kimia menyumbang pendapatan USD1,96 miliar atau naik 16% dari USD1,69 miliar. Adapun segmen infrastruktur mencatat pendapatan USD64,6 juta, meningkat 13,9% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD56,7 juta.
Meski laba bersih turun 77,2% dibanding semester I 2025 yang mencapai USD1,63 miliar, perseroan menjelaskan perbandingan tersebut dipengaruhi basis yang tinggi akibat pencatatan keuntungan nonberulang (bargain purchase gain) dari akuisisi Aster pada tahun lalu.
Di luar faktor tersebut, kinerja operasional dan keuangan perseroan tetap menunjukkan pertumbuhan yang solid.
Perseroan juga memperkuat struktur permodalan melalui peningkatan porsi saham free float menjadi 25,7% serta penyelesaian penerbitan Obligasi Berkelanjutan V senilai total Rp6 triliun yang mengalami kelebihan permintaan (oversubscription).
Dari sisi likuiditas, Chandra Asri memiliki kas, setara kas dan surat berharga sebesar USD3,87 miliar hingga akhir Juni 2026. Posisi tersebut dinilai cukup kuat untuk mendukung operasional, belanja modal dan ekspansi usaha.
Pada semester I 2026, belanja modal perseroan mencapai USD283,8 juta atau meningkat 56% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar USD181,9 juta.
Di sektor energi, Chandra Asri melanjutkan integrasi pasca-akuisisi melalui transisi jaringan SPBU Esso dan fasilitas cold storage yang menjadi bagian dari penguatan platform mobility serta rantai pasok hilir.
Perseroan juga melanjutkan proyek revitalisasi Condensate Splitter Unit (CSU) dan Single Buoy Mooring (SBM) di Pulau Bukom, Singapura.
“Fasilitas CSU dan SBM di Pulau Bukom terus menunjukkan kemajuan menuju tahap operasional sebagai bagian dari upaya revitalisasi dan integrasi yang lebih luas pasca-akuisisi Aster. Inisiatif ini diperkirakan akan memberikan tambahan EBITDA sekitar USD 20 juta per bulan mulai kuartal IV 2026,” tulis manajemen.
Di bisnis kimia, pembangunan pabrik Chlor Alkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) telah mencapai 72% dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2027.
Perseroan juga telah mengambil keputusan investasi final atau Final Investment Decision (FID) untuk proyek ekspansi ekspor C2 senilai USD80 juta. Proyek tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas ekspor sekaligus memperkuat integrasi operasi Aster di Singapura dengan bisnis hilir kimia di Indonesia.
Sementara itu, anak usaha infrastruktur PT Chandra Daya Investasi (CDI) terus memperluas bisnis kepelabuhanan, penyimpanan dan logistik.
CDI menjalin kerja sama strategis dengan SCG Barito Logistics (SBL) dan Krakatau Bandar Samudera (KBS) guna mengeksplorasi pengembangan layanan penyimpanan ISO tank, dry container, serta layanan lift-on/lift-off (LOLO) di Krakatau International Port.
Selain itu, pembangunan fasilitas tangki bitumen CDI telah mencapai progres 75%. Kapal Novah dari Jepang juga telah menyelesaikan maiden voyage dan maiden berthing yang memperkuat jaringan logistik dan kapabilitas maritim grup.
Pada 1 Juli 2026, Aster Ports & Terminals resmi mulai beroperasi sebagai platform pelabuhan terintegrasi yang melayani kebutuhan internal maupun pelanggan pihak ketiga.
Perseroan juga membentuk joint venture Aster Power bersama Sembcorp dan CDI guna memperkuat platform infrastruktur regional.
Dengan perkembangan tersebut, Chandra Asri optimistis dapat terus memperkuat posisi sebagai pemain utama di sektor energi, kimia dan infrastruktur di Asia Tenggara serta menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan.

