STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Wall Street kompak melemah pada penutupan perdagangan hari Rabu (29/7/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (30/7/2026) WIB. Penurunan tajam ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap langkah Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (Fed) dalam menghadapi inflasi. Investor menilai The Fed tertinggal dalam upaya meredam kenaikan harga setelah memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga.
Mengutip CNBC, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York anjlok 1.153,18 poin atau 2,19% ke level 51.594,14. Penurunan ini merupakan yang terburuk sejak April 2025. Indeks S&P 500 (SPX) juga turun 1,52% dan berakhir di posisi 7.316,15. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) merosot 1,74% menjadi 24.442,94, yang menempatkan posisinya lebih dari 10% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa.
Pasar obligasi bereaksi negatif atas keputusan The Fed untuk tetap diam. Imbal hasil Treasury 10-tahun melonjak di atas 4,67%. Sementara itu, imbal hasil Treasury 30-tahun melambung tinggi ke level di atas 5,2%. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak tahun 2007.
Meski tiga pejabat menginginkan kenaikan suku bunga, The Fed tetap pada pendiriannya. Ketua Fed Kevin Warsh memberikan pernyataan tegas untuk meyakinkan pasar. Namun, hal tersebut gagal menenangkan para pelaku pasar obligasi.
“Saya ingin menekankan, tentu saja, keputusan komite ini sangat penting. Jika perlu dan tepat, kami tidak akan ragu untuk bertindak,” ujar Kevin dalam konferensi persnya.
Jeffrey Gundlach dari DoubleLine memberikan pandangan berbeda dalam program “Closing Bell” di CNBC. Menurutnya, lonjakan imbal hasil obligasi adalah pesan langsung untuk Kevin. Ia menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk menekan inflasi.
“Jika Anda benar-benar ingin mencapai 2%, saya pikir Anda harus menaikkan suku bunga. Imbal hasil obligasi jangka panjang naik secara signifikan setelah konferensi pers karena para penjaga pasar obligasi mengatakan, ‘Jika Anda ingin kami percaya pada retorika Anda, Anda harus mulai bertindak,’” kata Jeffrey.
Kekhawatiran inflasi semakin bertambah akibat lonjakan harga minyak dunia. Hal ini menyusul pernyataan Presiden Donald Trump terkait konflik di Timur Tengah. Trump menyebut Amerika Serikat akan menyerang Iran dengan keras sebagai balasan atas serangan terhadap pasukan mereka. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 6% ke posisi USD 84,46 per barel.
Sektor teknologi, khususnya saham semikonduktor, turut mengalami tekanan berat. iShares Semiconductor ETF (SOXX) anjlok 5,5% dan mencatat penurunan selama lima hari berturut-turut. Para investor mulai cemas akan hasil dari pengeluaran besar-besaran untuk kecerdasan buatan (AI) serta persaingan ketat dari China.
Saham Micron Technology dan KLA masing-masing jatuh sekitar 10%. Perusahaan cip lainnya, AMD, juga ikut merosot sebesar 5,5%. Kondisi ini menambah deretan sentimen negatif yang menyelimuti pasar saham Amerika Serikat pada penutupan perdagangan tersebut.

