spot_img

Harga Emas Dunia Kembali Berkilau, Ternyata Ini Penyebabnya 

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali mencetak sejarah baru pada perdagangan Kamis (30/7/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (31/7/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan data inflasi yang melandai.

Mengutip CNBC, harga emas spot naik 1,1% ke posisi USD 4.109,94 per ons troi. Emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus juga menguat 1,9% menjadi USD 4.108,30 per ons troi.

Indeks dolar AS terpantau merosot 0,9%. Penurunan ini terjadi seiring menguatnya mata uang yen Jepang. Investor kini terus waspada terhadap kemungkinan campur tangan pemerintah Jepang untuk menjaga mata uang mereka.

Dolar yang melemah membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli di luar negeri. Harga emas tidak banyak berubah setelah laporan Departemen Perdagangan AS rilis. Laporan tersebut menunjukkan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) turun 0,1% pada Juni.

Angka penurunan ini sesuai dengan perkiraan para ekonom dalam jajak pendapat Reuters. Namun, melandainya inflasi ini diprediksi hanya sementara. Hal ini terjadi karena konflik di Timur Tengah berisiko mendorong kembali harga minyak.

Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy di TD Securities, memberikan analisanya. Ia melihat kondisi inflasi saat ini masih dalam tahap aman.

“Data PCE terlihat sedikit lebih baik dari yang diharapkan pasar. Jadi untuk saat ini lingkungan di sisi inflasi kurang lebih stabil. Namun, pasar minyak akan terus menjadi masalah,” ujar Melek.

Ia juga mengingatkan stabilitas inflasi ini bisa berubah dengan cepat. Ketidakstabilan di Timur Tengah menjadi faktor penentu utamanya.

“Inflasi mungkin sedikit terkendali saat ini, tetapi itu bisa berubah dengan sangat mudah jika kita terus melihat ketidakstabilan di Timur Tengah,” tambah Melek.

Sebelumnya, bank sentral AS atau The Fed memutuskan menahan suku bunga acuan. Suku bunga tetap berada di kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuan hari Rabu.

Ketua Fed Kevin Warsh memberikan pernyataan yang cukup membingungkan pelaku pasar. Warsh berjanji akan terus berkomitmen menurunkan inflasi. Namun, ia tidak memberikan gambaran jelas soal rencana kenaikan atau penurunan suku bunga ke depan.

Sikap ini membuat pedagang mengurangi taruhan pada kenaikan suku bunga. Berdasarkan alat FedWatch CME Group, peluang kenaikan bunga pada pertemuan 15-16 September kini turun menjadi 57%. Angka ini merosot tajam dari posisi sebelumnya sebesar 77%.

Suku bunga yang tinggi biasanya membuat emas kurang menarik. Sebab, emas merupakan aset yang tidak memberikan bunga atau imbal hasil.

Data ekonomi lain menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja AS masih stabil. Klaim pengangguran meningkat lebih rendah dari perkiraan pekan lalu. Di sisi lain, harga minyak sedikit turun karena adanya pembicaraan antara Oman dan Iran terkait keamanan Selat Hormuz.

Tren kenaikan harga juga diikuti oleh logam mulia lainnya. Harga perak spot naik 1,5% menjadi USD 58,52 per ons troi. Platinum menguat 1,9% ke level USD 1.641,78 per ons troi. Kenaikan tertinggi dicatatkan oleh paladium yang melesat 3,8% ke posisi USD 1.294,50 per ons troi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Stock Future Nasdaq Menanjak, Laba Amazon Jaga Momentum Positif Wall Street

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka Nasdaq menanjak pada...

Arab Saudi Usulkan Koalisi Maritim, Harga Minyak Dunia Langsung Merosot 

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot sekitar 2%...

Stock Futures AS Menguat Usai Laba Microsoft Lampaui Ekspektasi, Pasar Bangkit dari Tekanan The Fed

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka saham Amerika Serikat...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru