spot_img

Penghimpunan Dana Obligasi Capai Rp103,86 Triliun, BEI Masih Kantongi 11 Emisi Baru dari 9 Penerbit

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pasar obligasi korporasi masih menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi di tengah melambatnya pencatatan saham baru.  Hingga 17 Juli 2026, terdapat 11 emisi dari sembilan penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) yang masih berada dalam pipeline penerbitan.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengatakan hingga saat ini telah diterbitkan sebanyak 114 emisi dari 62 penerbit EBUS. Dari aksi korporasi ini, total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp103,86 triliun.

“Sampai dengan 17 July 2026 terdapat 11 emisi dari 9 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline,” kata Saidu, dikutip Minggu (18/7/2026).

Berdasarkan sektor usahanya, pipeline obligasi paling banyak berasal dari sektor energi. Tercatat terdapat lima perusahaan sektor energi yang tengah mempersiapkan penerbitan obligasi atau sekitar 45,5% dari total pipeline.

Selain itu, terdapat dua perusahaan dari sektor keuangan dan dua perusahaan dari sektor infrastruktur. Sementara sektor basic materials dan consumer non-cyclicals masing-masing menyumbang satu perusahaan.

Adapun belum terdapat perusahaan dari sektor consumer cyclicals, healthcare, industrials, properties & real estate, technology, maupun transportation & logistic yang masuk dalam pipeline obligasi BEI.

Data tersebut menunjukkan pasar surat utang korporasi masih menjadi salah satu alternatif pendanaan yang diminati emiten di tengah kondisi pasar saham yang masih berfluktuasi.

Direktur PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM), David Agus, menilai kebutuhan pendanaan melalui instrumen obligasi masih cukup kuat meskipun suku bunga cenderung meningkat.

“Kalau IPO memang karena kondisi pasar saham yang lagi bergejolak, mungkin orang lagi menunggu dan wait and see. Tapi kalau obligasi memang perlu uang, walaupun bunganya naik sebagian tetap mengeluarkan obligasi,” ujar David.

Menurut David, penerbitan obligasi memiliki karakter yang lebih berulang dibandingkan IPO saham.

“Kalau obligasi lebih sifatnya recurring, tetap ada saja.  Sampai akhir tahun lalu emisi obligasi seluruh korporasi mendekati Rp200 triliun. Tahun ini mungkin cenderung lebih sedikit, tapi market share kami tetap ada di top three,” katanya.

Ia juga mengungkapkan aktivitas penerbitan obligasi masih cukup aktif.  Pada Juni 2026 saja, terdapat sekitar belasan obligasi yang telah efektif di Trimegah bersama pelaku pasar lainnya.

“Seingat saya ada bulan Juni kemarin yang efektif di tempat kita ada sekitar belasan obligasi. Tapi tentunya kita tidak sendirian, sama dengan dealer yang lain,” ujar David.

Dengan masih adanya 11 emisi dalam pipeline dan kebutuhan pendanaan korporasi yang tetap tinggi, pasar obligasi diperkirakan masih akan menjadi salah satu sumber pembiayaan utama bagi perusahaan hingga akhir tahun.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Mencuat Transaksi Tidak Lazim Saham HEAL dan GWSA Masing-Masing Rp100 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Laporan kepemilikan saham yang disampaikan kepada...

Himpun Rp10,69 Triliun, BEI Kantongi 1 Emiten Properti di Pipeline Rights Issue

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 15...

Empat Perusahaan Masuk Antrean IPO BEI, Dua Memiliki Aset Jumbo

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat masih...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru