STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bach Multi Global Tbk (BACH) resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (8/7/2026). Perseroan melepas 615 juta saham kepada publik atau setara 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum perdana (IPO).
Pada pencatatan perdana, BACH menetapkan harga saham IPO sebesar Rp442 per saham. Perseroan berhasil menghimpun dana sebesar Rp271,83 miliar dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar Rp1,81 triliun.
BACH bergerak di bidang penjualan dan penyewaan genset serta jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi. Adapun saham BACH tercatat di Papan Utama BEI sebagai emiten keempat pada 2026.
Direktur Utama PT Bach Multi Global Tbk Budi Kurniawan mengatakan, pencatatan saham perdana menjadi langkah strategis untuk mempercepat ekspansi bisnis di sektor penyediaan energi dan pembangunan infrastruktur telekomunikasi.
“Langkah strategis ini menjadi fondasi bagi BACH untuk mempercepat ekspansi bisnis di sektor penyediaan energi dan pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital dan keandalan pasokan listrik di Indonesia,” ujar Budi, di Jakarta, Rabu (8/7/2026)
Perseroan membukukan pendapatan sekitar Rp1,73 triliun sepanjang 2025 atau meningkat hampir 40% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih melonjak 97,5% menjadi sekitar Rp155 miliar, sementara margin laba bersih meningkat menjadi 9% dari sebelumnya 6,3%.
Peningkatan kinerja tersebut ditopang pertumbuhan bisnis penjualan genset yang naik lebih dari 93% secara tahunan. Sementara bisnis penyewaan genset meningkat lebih dari 1.200%. Di sisi lain, jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi tetap menjadi salah satu penyumbang utama pendapatan melalui kontrak jangka panjang yang menghasilkan pendapatan berulang (recurring income).
BACH memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun. Perseroan telah mengelola lebih dari 40.000 site, mendistribusikan lebih dari 20.000 unit genset, serta melayani lebih dari 200 pelanggan korporasi dari berbagai sektor, termasuk telekomunikasi, perbankan, energi, hingga pemerintah. Pelanggan Perseroan antara lain Grup Protelindo, PLN Group, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Huawei, dan Indosat Ooredoo Hutchison.
Dana hasil IPO akan digunakan sekitar 70% untuk modal kerja, terutama pembelian genset guna memenuhi kebutuhan penjualan dan penyewaan. Sisanya sekitar 30% dialokasikan untuk pembayaran sebagian pinjaman bank agar memperkuat struktur permodalan dan menurunkan tingkat leverage Perseroan.
Manajemen menargetkan pendapatan meningkat dari sekitar Rp1,73 triliun pada 2025 menjadi lebih dari Rp3 triliun pada 2030 dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 12% per tahun. Laba bersih diproyeksikan mencapai sekitar Rp401 miliar atau meningkat sekitar 158%, didukung ekspansi bisnis power solution, peningkatan proyek infrastruktur telekomunikasi, efisiensi operasional, dan penurunan beban keuangan setelah IPO.
Dalam struktur pengurus, Perseroan dipimpin Komisaris Utama Anita Anwar dan Direktur Utama Budi Kurniawan. Adapun Komisaris Independen dijabat Daniel Gunawan, sedangkan posisi Komisaris ditempati Hartanto Rahardja. Direktur Perseroan terdiri atas Hasby Jap, Julius Irwandi, Irvan Rianto, dan Audia Michael Septian yang juga menjabat Sekretaris Perusahaan.

