Saham GRPM Disuspensi BEI, Manajemen Angkat Bicara Soal Lonjakan Harga

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Graha Prima Mentari Tbk (GRPM) angkat bicara terkait volatilitas transaksi saham perseroan. Penjelasan ini disampaikan untuk merespons permintaan klarifikasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI).

Klarifikasi tersebut muncul setelah BEI menghentikan sementara perdagangan saham GRPM. Suspensi juga berlaku untuk Waran Seri I di seluruh pasar. Penghentian perdagangan ini efektif sejak sesi I tanggal 12 Januari 2026.

Keputusan itu tercantum dalam pengumuman Bursa nomor Peng-SPT-00023/BEI.WAS/01-2026. BEI mengambil langkah tersebut menyusul kenaikan harga kumulatif saham GRPM yang dinilai sangat tajam.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 9 Januari 2026, saham GRPM ditutup di level Rp134. Posisi itu naik Rp12 atau 9,84% dibandingkan penutupan Kamis, 8 Januari 2026 di Rp122.

Pada perdagangan berikutnya, saham GRPM dibuka di Rp134. Harga tersebut menjadi level tertinggi sekaligus terendah harian. Volume transaksi tercatat sebanyak 4.677.300 saham.

Sepanjang tahun berjalan, harga tertinggi GRPM berada di Rp134 pada 9 Januari 2026. Harga terendah tercatat di Rp92 pada 2 Januari 2026. Dalam periode 52 minggu terakhir, saham ini bergerak di kisaran Rp42 hingga Rp134. Kapitalisasi pasar GRPM mencapai Rp207.042.301.870.

Manajemen menyatakan tidak mengetahui penyebab pergerakan harga saham perseroan di pasar. Perseroan juga menegaskan tidak melakukan intervensi terhadap mekanisme perdagangan.

“Managemen tidak mengetahui penyebab dari pergerakan harga saham Perseroan. Managemen fokus kepada operasional dan meningkatkan value added Perseroan,” kata Direktur Utama & Sekretaris Perusahaan GRPM, Agus Susanto, dalam surat jawaban kepada BEI, Rabu (14/1/2026).

Agus juga menyampaikan pandangannya mengenai kondisi makroekonomi dan industri. Ia menilai situasi ekonomi saat ini tidak berdampak signifikan terhadap prospek usaha perseroan.

Namun, ia mengakui sektor ritel menghadapi tekanan sepanjang tahun lalu. “Secara umum, memang industri ritel mengalami tekanan sepanjang tahun 2025,” ujarnya.

Meski begitu, perseroan tetap optimistis menatap tahun 2026. Manajemen menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga kinerja perusahaan.

Strategi yang diterapkan mencakup ekspansi wilayah usaha dan penambahan mitra principal. Perseroan juga fokus melakukan efisiensi biaya.

“Pada tahun 2026 ini, strategy yang sama akan diberlakukan yaitu menambah area dan menambah principal, serta melakukan efisiensi biaya,” jelas Agus.

Dari sisi persaingan, manajemen menilai kondisi pasar masih tergolong wajar. Tidak ada perubahan pangsa pasar yang berdampak material terhadap perseroan.

Agus juga menegaskan kondisi hukum perusahaan dalam keadaan bersih. “Saat ini tidak ada kejadian perkara hukum yang sedang dihadapi oleh Perseroan, Anak Usaha Perseroan, dan atau anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris Perseroan yang berdampak material,” tegasnya.

Ia menambahkan tidak ada informasi atau fakta material penting yang belum disampaikan kepada publik. Manajemen juga tidak menemukan pemberitaan media yang berpotensi memengaruhi harga saham.

Sebagai bentuk kepatuhan terhadap peraturan pasar modal, perseroan telah memenuhi panggilan BEI. GRPM melaksanakan Paparan Publik Insidentil pada 13 Januari 2026.

Laporan resmi atas kegiatan tersebut telah disampaikan kepada Bursa pada hari yang sama.

- Advertisement -

Artikel Terkait

MSCI Masih Singgung Risiko Downgrade? Ini Kata BEI

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – MSCI sempat mengancam akan menurunkan posisi...

Ekspansi Usaha, Adiwarna Anugerah (NAIK) Dirikan Anak Usaha Baru di Singapura

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)- PT Adiwarna Anugerah  Abadi Tbk (NAIK) mendirikan...

Merdeka Battery (MBMA) Lunasi Pokok dan Bunga Obligasi III 2025 Seri A Senilai Rp841,620 Miliar

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Manajemen PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru