STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia melonjak tajam pada akhir perdagangan Jumat (6/3/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (7/3/2026) WIB. Kenaikan ini membawa harga minyak mencetak rekor keuntungan mingguan terbesar dalam sejarah. Eskalasi perang di Timur Tengah menjadi pemicu utamanya.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent melesat 7,28 USD atau 8,52% menjadi 92,69 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terbang 9,89 USD atau 12,21%. Minyak WTI berakhir pada posisi 90,90 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Minyak mentah WTI Amerika Serikat (AS) meroket 35,63% sepanjang pekan ini. Angka ini merupakan keuntungan mingguan terbesar sejak sejarah kontrak berjangka dimulai pada 1983.
Minyak Brent juga melompat sekitar 28% pada minggu ini. Capaian ini menjadi kenaikan mingguan terbesar Brent sejak April 2020.
Lonjakan harga dipicu oleh sikap Presiden AS Donald Trump. Ia menuntut penyerahan tanpa syarat dari Iran pada hari Jumat. Tuntutan ini memicu ketakutan pasar akan pecahnya perang berkepanjangan.
Konflik ini sangat mengacaukan pasar minyak dan gas global. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz kini hampir terhenti. Jalur ini merupakan rute pelayaran sangat vital bagi pasokan energi dunia.
Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi memberikan peringatan keras. Harga minyak mentah bisa menyentuh 150 USD per barel dalam beberapa minggu ke depan. Lonjakan harga bisa terjadi jika kapal tanker tidak dapat melewati Selat Hormuz.
“Meruntuhkan ekonomi dunia,” kata Kaabi kepada The Financial Times.
“Semua orang yang belum menyerukan keadaan kahar kami perkirakan akan melakukannya dalam beberapa hari ke depan jika ini terus berlanjut,” ungkap Kaabi.
“Semua eksportir di kawasan Teluk harus menyerukan keadaan kahar. Jika tidak, pada titik tertentu mereka akan menanggung kewajiban untuk itu secara hukum, dan itu adalah pilihan mereka,” tambahnya.
Pemerintahan Trump telah mengumumkan program asuransi senilai 20 miliar USD pada hari Jumat. Program ini ditujukan untuk melindungi kapal tanker minyak di Teluk Persia. Namun, langkah ini belum mampu menenangkan kepanikan pasar minyak mentah.
Dampak perang mulai memukul operasional produksi minyak di Timur Tengah. Irak telah menutup 1,5 juta barel per hari produksinya. Kuwait juga mulai memangkas produksi akibat kehabisan ruang penyimpanan.
Natasha Kaneva, Head of Global Commodities Research di JPMorgan, memaparkan analisanya dalam sebuah catatan kepada klien.
“Pasar bergeser dari menetapkan harga risiko geopolitik murni menuju pergulatan dengan gangguan operasional yang nyata,” tulis Kaneva.
Pemotongan produksi bisa mendekati 6 juta barel per hari pada akhir minggu depan. Kondisi ini bisa terjadi jika Selat Hormuz tidak kunjung terbuka untuk lalu lintas kapal. JPMorgan juga memproyeksikan Uni Emirat Arab akan mengalami kendala pasokan dalam waktu dekat.
Krisis energi ini langsung berdampak pada konsumen di AS. Harga rata-rata bensin reguler melonjak hampir 27 sen menjadi 3,25 USD per galon pada minggu lalu. Data ini dilaporkan oleh organisasi perjalanan AS AAA.
Perang antara Iran dan AS telah memasuki hari ketujuh. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan posisi militernya pada sebuah konferensi pers hari Kamis. Ia menyebut AS baru saja memulai serangan.
“Iran berharap kita tidak dapat mempertahankan ini, yang merupakan salah perhitungan yang sangat buruk,” tegas Hegseth kepada para wartawan.
