back to top

Wall Street Berbalik Arah, Indeks Dow Jones Melompat 200 Poin

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Senin sore (9/3/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (10/3/2026) WIB. Tiga indeks utama berhasil bangkit dari kerugian awal sesi. Investor merespons positif kabar meredanya perang melawan Iran.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York melonjak 239,25 poin atau 0,5% ke level 47.740,80. Indeks S&P 500 (SPX) juga naik 0,83% dan berakhir di posisi 6.795,99. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi, menguat 1,38% menjadi 22.695,95.

Pergerakan ini menandai titik balik luar biasa bagi bursa saham. Sebelumnya pasar sempat anjlok parah pada awal perdagangan. Indeks Dow Jones bahkan sempat merosot hampir 900 poin pada titik terendahnya. S&P 500 dan Nasdaq juga sempat jatuh masing-masing hingga 1,5%.

Kenaikan pasar secara luas ikut tertopang oleh lonjakan saham semikonduktor. Saham Broadcom menguat lebih dari 4%. Saham Micron Technology dan Advanced Micro Devices melonjak masing-masing 5%. Saham Nvidia juga ikut mendaki lebih dari 2%.

Sentimen pasar membaik menyusul pernyataan terbaru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia menyebut operasi militer melawan Iran sudah hampir mencapai titik akhir. Trump menyampaikan hal ini kepada seorang reporter CBS News pada hari Senin.

“Perang ini sudah sangat selesai, hampir semuanya,” ucap Trump.

Presiden AS ini menilai pasukannya berada sangat jauh di depan dari jadwal awal. Awalnya perang ini ditargetkan berlangsung selama empat hingga lima minggu.

“Mereka tidak punya angkatan laut, tidak punya komunikasi, mereka tidak punya Angkatan Udara,” tambah Trump.

Trump juga menyinggung soal pergerakan kapal-kapal melalui jalur vital Selat Hormuz. Ia sedang mempertimbangkan langkah tegas terkait wilayah perairan tersebut.

“Saya berpikir untuk mengambil alihnya,” tegasnya.

Berita ini langsung memukul mundur harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI). Harganya anjlok hingga USD 81 per barel. Padahal pada perdagangan semalam, WTI sempat melonjak di atas USD 100 per barel. Minyak bahkan sempat menyentuh USD 119 per barel. Ini merupakan harga tertinggi sejak tahun 2022 saat Rusia menginvasi Ukraina.

Minyak mentah acuan internasional Brent ikut terseret turun. Harganya melemah mendekati USD 84 per barel pada titik terendahnya hari ini. Sebagai perbandingan, harga minyak AS mengawali tahun ini di bawah USD 60 per barel.

Harga minyak sebelumnya sempat melesat akibat penutupan Selat Hormuz. Produsen utama di Timur Tengah memangkas produksinya besar-besaran. Kuwait mengumumkan pemotongan produksi tanpa menyebut detail angkanya. Sementara produksi minyak Irak dilaporkan anjlok drastis hingga 70%.

Para menteri energi dari negara-negara G7 langsung merespons kondisi krisis ini. Anggota G7 terdiri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan AS. Mereka berencana menggelar pertemuan virtual pada Selasa pagi. Tujuannya untuk membahas potensi pelepasan cadangan minyak dunia. Para menteri keuangan G7 sudah bertemu pada hari Senin meski belum menghasilkan keputusan final.

Wall Street melihat level minyak USD 100 sebagai titik kritis bagi perekonomian global. Ancaman ekonomi bisa terjadi jika perang tidak cepat selesai dan harga tidak segera turun. Trump pada Minggu malam sempat menulis pesan terkait hal ini. Ia menilai kenaikan harga minyak jangka pendek adalah harga kecil untuk melenyapkan ancaman nuklir Iran.

John Luke Tyner, Manajer Portofolio dan Kepala Pendapatan Tetap di Aptus Capital Advisors, memberikan pandangannya soal kondisi pasar saat ini.

“Sepertinya segala sesuatunya bergerak ke arah yang lebih baik,” kata Tyner.

Tyner juga menanggapi lonjakan harga minyak yang sempat bikin panik pasar. Ia melihat dampak jangka panjangnya terhadap fundamental perusahaan.

“Saya rasa gangguan kecil ini tidak cukup buruk atau cukup lama untuk benar-benar mengacaukan rencana sejauh menyangkut pertumbuhan dan pendapatan,” tuturnya.

Ia memproyeksikan harga minyak akan segera stabil kembali. Hal ini bisa terwujud asalkan tidak ada kerusakan parah pada fasilitas minyak.

“Saya membayangkan kecuali banyak infrastruktur yang hancur, minyak akan kembali dan normal di kisaran USD 65 hingga USD 75 per barel, yang merupakan jalan tengah membahagiakan bagi semua orang,” tutup Tyner.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Perang Timur Tengah Kerek Harga Minyak, Bursa Saham Eropa Kompak Merah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

Arab Saudi Guyur Pasar Minyak, Bursa Saham Asia Kompak Pangkas Kerugian

STOCKWATCH.ID (TOKYO) - Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak...

Wall Street Terpuruk, Indeks Dow Jones Anjlok 450 Poin

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru