back to top

Trump Berencana Ambil Alih Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Merosot Tajam

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot sekitar 6% pada akhir perdagangan Senin (9/3/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (10/3/2026) WIB.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent turun 4,6% menjadi 88,43 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh 6,19%. Minyak WTI berakhir pada posisi 85,27 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.

Penurunan tajam harga minyak terjadi akibat pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Ia berencana mengambil alih kendali Selat Hormuz. Jalur laut ini merupakan titik paling krusial bagi pasar minyak mentah dunia.

Sekitar 20% konsumsi minyak dunia diekspor melalui Selat Hormuz. Saat ini perairan sempit tersebut tertutup akibat perang di Iran.

Trump berbicara dengan CBS News melalui sambungan telepon. Ia mengklaim kapal-kapal sudah mulai bergerak melintasi selat tersebut.

“Saya berpikir untuk mengambil alihnya,” tegas Trump.

Presiden AS ini juga membagikan pandangan optimisnya. Ia memprediksi perang di Iran akan segera berakhir.

Selain itu, Trump sedang mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia. Tiga sumber anonim membocorkan rencana ini kepada Reuters. Langkah ini sengaja disiapkan guna membantu menurunkan harga minyak mentah global.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak liar tak terkendali. Minyak WTI sempat ditutup naik 4,26% ke level 94,77 USD per barel sebelum akhirnya anjlok. Harga bahkan sempat menyentuh angka 119,48 USD per barel pada perdagangan semalam.

Harga minyak Brent juga sempat melesat ke level tertinggi 119,50 USD per barel. Momen ini merupakan kali pertama harga minyak menembus 100 USD per barel sejak Rusia menginvasi Ukraina pada tahun 2022.

Lonjakan harga ini dipicu oleh aksi negara-negara Teluk Arab. Mereka ramai-ramai memangkas produksi minyak besar-besaran. Kapal-kapal komersial tidak bisa berlayar melintasi Selat Hormuz akibat ancaman keamanan dari Iran.

Matt Smith, Analis Minyak di Kpler, membenarkan kondisi lumpuhnya jalur laut tersebut. Ia menyebut hanya segelintir kapal komersial bernyali melewati selat itu saat ini.

Krisis energi ini langsung memicu reaksi cepat dari negara-negara G7. Menteri energi G7 bersiap menggelar pertemuan virtual pada Selasa pagi. Mereka membahas rencana pelepasan cadangan minyak bersama ke pasar global.

Para menteri keuangan G7 sudah lebih dulu bertemu secara virtual pada hari Senin. Mereka mendiskusikan imbas perang Iran terhadap stabilitas ekonomi dunia.

“Kami siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan, termasuk untuk mendukung pasokan energi global seperti pelepasan cadangan,” tulis para menteri dalam pernyataan bersama mereka.

Grup G7 ini beranggotakan negara-negara maju. Negara tersebut meliputi Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan AS.

Penutupan Selat Hormuz telah memicu gangguan pasokan minyak paling parah dalam sejarah. Fakta ini terungkap dalam laporan analisis perusahaan konsultan Rapidan Energy.

Negara-negara produsen di Timur Tengah terpaksa memangkas produksi karena kehabisan ruang penyimpanan. Minyak mentah terus menumpuk tanpa bisa dikirim. Perusahaan kapal tanker menolak melintasi jalur tersebut karena takut mendapat serangan dari Iran.

Janiv Shah, Wakil Presiden Pasar Minyak di Rystad Energy, memproyeksikan skenario harga terburuk. Harga minyak Brent bisa terbang hingga 135 USD per barel jika krisis ini berlangsung selama empat bulan. Harga akan bertengger di atas 110 USD jika kondisi serupa bertahan selama dua bulan.

Donald Trump sempat merespons lonjakan harga minyak akhir pekan lalu melalui platform Truth Social. Ia menilai kenaikan harga minyak jangka pendek merupakan harga sangat kecil untuk dibayar demi menghancurkan ancaman nuklir Iran.

“Hanya orang bodoh yang berpikir berbeda!” tulis Trump di akun media sosialnya.

Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengeluarkan peringatan keras hari Senin. Ia meminta seluruh kapal tanker laut untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Selama situasinya tidak aman, saya pikir semua kapal tanker, semua navigasi maritim, harus sangat berhati-hati,” ucap Baghaei dalam wawancara dengan CNBC.

Kondisi genting ini membuat produsen utama OPEC menurunkan produksinya. Kuwait sebagai produsen terbesar kelima OPEC mengumumkan pemangkasan produksi secara hati-hati pada hari Sabtu. Namun, perusahaan milik negara Kuwait Petroleum Corp tidak merinci besaran pemotongannya.

Irak yang berstatus sebagai produsen terbesar kedua OPEC ikut terpukul parah. Produksi dari tiga ladang minyak utama di wilayah selatannya anjlok drastis hingga 70%. Produksinya kini hanya tersisa 1,3 juta barel per hari. Padahal sebelum perang, Irak mampu memproduksi 4,3 juta barel per hari.

Uni Emirat Arab sebagai produsen terbesar ketiga OPEC mengambil langkah serupa. Negara ini mengatur ketat tingkat produksi lepas pantainya demi menyesuaikan kapasitas penyimpanan. Meski begitu, operasional kilang minyak darat mereka dilaporkan masih berjalan normal.

Menteri Energi AS, Chris Wright, mencoba menenangkan kepanikan pasar pada hari Minggu. Ia berjanji lalu lintas laut di Selat Hormuz akan kembali pulih usai militer AS menghancurkan kekuatan Iran.

“Kita tidak lama lagi akan melihat dimulainya kembali lalu lintas kapal yang lebih teratur melalui Selat Hormuz,” ujar Wright kepada CNN.

Wright mengakui kondisi saat ini masih berantakan. Ia sadar proses pemulihan jalur laut internasional ini membutuhkan waktu tidak sebentar.

“Kita sama sekali belum mendekati lalu lintas normal saat ini. Itu akan memakan waktu. Tapi sekali lagi, skenario terburuknya adalah beberapa minggu, bukan berbulan-bulan,” tutup Wright penuh keyakinan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Tertekan Dolar AS dan Isu Inflasi, Harga Emas Dunia Anjlok Lebih dari 1%

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia merosot lebih dari...

Data Tenaga Kerja AS Mengecewakan, Harga Emas Dunia Kembali Bersinar

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dunia kembali mencetak...

Perang AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Meroket 35% Cetak Rekor Sejarah

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia melonjak tajam...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru