spot_img

Wall Street Berhasil Rebound dan Hapus Kerugian Dampak Perang Iran

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Senin sore (13/4/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (14/4/2026) WIB. Indeks S&P 500 berhasil menghapus seluruh kerugian sejak perang Iran dimulai. Investor mulai optimis kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran akan segera tercapai.

Mengutip CNBC International, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York melonjak 301,68 poin atau 0,63% ke level 48.218,25. Indeks S&P 500 (SPX) melesat 1,02% dan berakhir di posisi 6.886,24. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) yang didominasi saham teknologi menguat 1,23% menjadi 23.183,74.

Ketiga indeks utama tersebut sempat tertekan pada awal sesi perdagangan. Indeks Dow Jones sempat merosot lebih dari 400 poin atau sekitar 0,9%. Indeks S&P 500 juga sempat turun 0,4% dan Nasdaq melemah 0,5% sebelum akhirnya berbalik menguat.

Sektor teknologi menjadi penopang utama penguatan pasar. Saham perangkat lunak Oracle melonjak hampir 13%. Sementara itu, saham Palantir Technologies naik lebih dari 3%. Kenaikan ini membantu S&P 500 mencapai level penutupan tertinggi sejak sebelum konflik dimulai.

Sentimen pasar membaik setelah Presiden Donald Trump memberikan pernyataan terbaru. Trump menyebut telah ada komunikasi dari pihak Iran.

“Kita telah dihubungi oleh pihak lawan. Mereka sangat ingin membuat kesepakatan,” ujar Trump.

Sebelumnya, Trump mengumumkan blokade Selat Hormuz. Hal ini terjadi setelah pembicaraan damai di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan akhir pekan lalu. Blokade lalu lintas maritim dari dan ke pelabuhan Iran mulai berlaku Senin. Komando Pusat AS menegaskan tidak akan menghalangi kapal yang menuju pelabuhan non-Iran.

Kegagalan negosiasi di Islamabad sempat memicu kekhawatiran perang Iran berlangsung lebih lama. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,6% menjadi USD 99,08 per barel. Minyak mentah Brent melonjak 4,37% ke posisi USD 99,36 per barel.

Wakil Presiden JD Vance meninggalkan Islamabad tanpa kesepakatan. Pihak Iran disebut enggan menghentikan pengembangan senjata nuklir. Iran juga menuntut kendali atas Selat Hormuz, kompensasi perang, serta pencairan aset yang dibekukan.

Mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turki akan melanjutkan pembicaraan dalam beberapa hari ke depan. Di sisi lain, Trump sedang mempertimbangkan untuk melanjutkan serangan militer.

Clark Bellin, President dan Chief Investment Officer Bellwether Wealth, memberikan analisanya. Ia menilai investor sedang menghitung ulang nilai saham di tengah ketidakpastian konflik.

“Investor kini kembali ke meja perencanaan mencoba menilai kembali nilai wajar saham sekarang setelah jelas tidak ada tanda-tanda akhir dari konflik di Timur Tengah,” ujar Bellin.

Menurut Bellin, situasi di Selat Hormuz sangat krusial bagi pasar. Ketegangan di wilayah tersebut masih akan membayangi pergerakan harga minyak.

“Selat Hormuz adalah kunci harga minyak dan sentimen pasar secara keseluruhan, dan jelas akan ada lebih banyak gertakan atas jalur air ini antara AS dan Iran minggu ini,” tambah Bellin.

BlackRock turut menaikkan prospek ekuitas AS. Perusahaan investasi ini menilai dampak makro dari perang masih terkendali. Laba perusahaan yang solid diprediksi menjadi landasan kuat untuk keuntungan pasar di masa depan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Menanti Data Pekerjaan Mei, S&P 500 Stock Futures Tergelincir Tipis

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Pasar saham Amerika Serikat atau...

Ketegangan Timur Tengah Membayangi, Bursa Saham Eropa Berhasil Parkir di Zona Hijau

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru