STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – DBS Bank memprediksi Bank Indonesia (BI) masih berpeluang kembali menaikkan suku bunga acuan pada paruh kedua 2026. Langkah tersebut dipicu tekanan terhadap nilai tukar Rupiah serta ketidakpastian global yang belum mereda.
Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, mengatakan BI berpotensi menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) lagi sehingga BI-Rate dapat mencapai 5,75% pada akhir 2026.
“Kami melihat masih ada ruang kenaikan 50 bps lagi pada paruh kedua tahun ini menjadi 5,75%, dengan asumsi Rupiah terus melemah dan ketegangan geopolitik berlangsung lebih lama,” ujar Radhika dalam risetnya, dikutip Jumat (22/5/2026).
Sebelumnya, BI secara mengejutkan menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25%. Angka tersebut lebih tinggi dibanding proyeksi awal DBS yang memperkirakan kenaikan hanya 25 bps.
Menurut Radhika, kenaikan agresif itu menunjukkan fokus BI menjaga stabilitas makroekonomi, khususnya nilai tukar Rupiah. Kebijakan tersebut juga dinilai sebagai langkah antisipatif untuk memastikan inflasi tetap berada dalam target 1,5%–3,5%.
Meski inflasi saat ini masih relatif terkendali, DBS memperkirakan tekanan harga akan meningkat pada semester II-2026. Konflik geopolitik di Timur Tengah disebut menjadi salah satu faktor yang berpotensi mendorong kenaikan harga di dalam negeri.
DBS juga menyoroti potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), baik subsidi maupun nonsubsidi. Pada 2022, BI sempat melakukan pengetatan kebijakan moneter sebelum terjadi kenaikan harga BBM domestik.
Dampak kenaikan suku bunga mulai tercermin di pasar keuangan. Suku bunga INDONIA tercatat naik sekitar 55 bps menjadi 5,15% pada Rabu. Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia dan poin swap valuta asing juga mengalami kenaikan.
Di sisi lain, BI tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran 4,9%–5,7%, sedangkan pemerintah menargetkan pertumbuhan lebih tinggi sebesar 5,8%–6,5%.
Radhika menambahkan, peluang penguatan Rupiah pada kuartal III-2026 masih sangat bergantung pada kondisi global, terutama arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).
“Harapan agar Rupiah berbalik menguat pada kuartal ketiga sangat bergantung pada kondisi global, khususnya saat pasar mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada periode tersebut,” kata dia.
Menurut DBS, penguatan Rupiah yang berkelanjutan juga membutuhkan dukungan kebijakan yang lebih ramah pasar guna mendorong aliran modal asing masuk ke Indonesia.
Sebagai informasi, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 19–20 Mei 2026 memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25%. Suku bunga Deposit Facility turut naik menjadi 4,25%, sedangkan Lending Facility menjadi 6,00%.
Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas Rupiah di tengah gejolak perang di Timur Tengah serta memastikan inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam sasaran 2,5±1%.

