STOCKWATCH.ID (NEW YORK)– Pasar saham Amerika Serikat sedang mengalami guncangan. Kontrak berjangka atau futures saham Wall Street terpantau melemah pada Minggu malam (7/6/2026) waktu setempat atau Senin pagi (8/6/2026) WIB.
Kondisi ini terjadi setelah Iran dilaporkan menembakkan rudal ke arah Israel. Serangan tersebut mengancam gencatan senjata yang selama ini sudah sangat rapuh.
Data CNBC International menunjukkan kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun 80 poin atau sekitar 0,2%. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 juga ikut merosot masing-masing sebesar 0,2%.
Serangan rudal Iran ini memicu kekhawatiran baru tentang stabilitas hubungan antara Washington dan Teheran. Aksi ini menyusul pernyataan Ketua Parlemen Iran, MB Ghalibaf melalui media sosial X.
Ghalibaf menilai blokade laut Amerika Serikat melanggar perjanjian. Ia juga menyebut adanya dugaan pelanggaran kesepakatan terkait Lebanon. Hal ini dianggap sebagai bentuk pelanggaran gencatan senjata.
Ketegangan ini memperburuk keadaan setelah bursa Nasdaq mengalami aksi jual besar-besaran pekan lalu. Pada Jumat sebelumnya, indeks Nasdaq Composite anjlok 4,18% ke level 25.709,43. Angka ini merupakan penurunan terbesar sejak April 2025.
Indeks S&P 500 juga merosot 2,64% ke posisi 7.383,74. Sementara itu, Dow Jones kehilangan 695 poin dan berakhir di level 50.866,78. Padahal, sehari sebelumnya Dow Jones sempat mencatatkan rekor tertinggi baru.
Kelesuan pasar pada Jumat lalu dipicu oleh laporan lapangan kerja bulan Mei yang lebih kuat dari perkiraan. Hal ini menyebabkan imbal hasil obligasi pemerintah meningkat. Para investor khawatir biaya pendanaan yang lebih tinggi akan membebani perusahaan. Terutama bagi perusahaan yang sedang melakukan ekspansi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI).
“Pasar saham mungkin menjadi korban dari keberhasilannya sendiri,” kata Callie Cox, Kepala Strategi Pasar di Ritholtz Wealth Management.
Menurut Callie, pasar tenaga kerja memang sudah membaik. Namun, ancaman inflasi yang terus tinggi menjadi risiko yang sangat dikhawatirkan semua orang.
“Pertumbuhan dan momentum telah melampaui segalanya sejak posisi terendah di bulan Maret. Hal ini bukan sesuatu yang diharapkan dalam lingkungan suku bunga dan inflasi tinggi. Strategi ini mungkin rentan terhadap kekecewaan jika tekanan biaya tetap tinggi,” ujar Callie.
Untuk pekan ini, perhatian investor tertuju pada data inflasi Amerika Serikat. Selain itu, pasar menantikan kehadiran SpaceX milik Elon Musk di bursa saham pada hari Jumat. Penawaran saham perdana (IPO) ini diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah Wall Street.
“Penawaran saham yang luar biasa besar biasanya menandai puncak kejenuhan pada siklus pasar masa lalu. Jadi ada keraguan tentang sinyal apa yang akan diberikan untuk sentimen pasar,” tutur Callie.
Para investor juga akan memantau laporan Indeks Harga Konsumen (IPI) bulan Mei pada Rabu dan Indeks Harga Produsen (IPP) pada Kamis. Data tersebut diharapkan bisa memberikan petunjuk mengenai tekanan inflasi yang masih berlangsung.

