STOCKWATCH.ID (BEIJING) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak melemah pada penutupan perdagangan Jumat (24/7/2026). Para pemodal mengantisipasi debut raksasa produsen chip asal China, ChangXin Memory Technologies (CXMT). Investor khawatir kehadiran emiten baru ini akan menyerap dana besar dari pasar saham.
Mengutip CNBC, rencana melantainya CXMT di bursa pada hari Senin (27/7/2026) mendatang menjadi pusat perhatian utama. Perusahaan ini berhasil meraup dana USD 8,6 miliar. Nilai tersebut menjadi penawaran umum perdana atau Initial Publice Offering (IPO) terbesar di Asia sepanjang tahun ini.
“Debut ChangXin Memory Technologies (CXMT) pada hari Senin memicu kekhawatiran di kalangan investor. Langkah ini bisa menarik uang tunai dari saham-saham China, karena investor mengumpulkan dana untuk mendapatkan bagian dari produsen chip memori terbesar di negara itu,” tulis CNBC.
Sentimen negatif ini muncul setelah saham-saham teknologi China terus merosot dalam beberapa sesi terakhir. Listing yang akan dilakukan di pasar STAR Shanghai ini membuat para pelaku pasar bersiap mengalihkan modal mereka. Akibatnya, tekanan jual melanda berbagai bursa utama di wilayah Asia.
Bursa Korea Selatan mencatatkan penurunan paling tajam di kawasan ini. Indeks Kospi anjlok lebih dari 5,7% ke level 6.690,62. Sementara itu, indeks Kosdaq yang banyak berisi saham teknologi juga jatuh 5,3% ke posisi 748,22.
Kondisi serupa terjadi di pasar saham Jepang. Indeks Nikkei 225 merosot 2,73% dan berakhir di posisi 64.611,15. Indeks Topix yang memiliki cakupan lebih luas ikut turun 1,1% menjadi 4.011,31.
Di China daratan, indeks CSI 300 melemah 1,67% ke level 4.649,19. Penurunan ini sejalan dengan indeks Shanghai SE Composite yang terkoreksi 1,61% ke posisi 3.814,20. Bursa Hong Kong juga tidak luput dari tekanan, di mana indeks Hang Seng ditutup turun 0,98% ke level 24.963,23.
Pasar saham Taiwan mengalami tekanan cukup berat. Indeks Taiex merosot 2,67% dan parkir di level 43.654,84. Hal ini menunjukkan kecemasan investor terhadap sektor semikonduktor di wilayah tersebut.
Bursa Australia turut merasakan dampak negatif. Indeks S&P/ASX 200 turun 0,75% ke level 8.772,3. Indeks ASX All Ordinaries juga melemah 0,85% ke posisi 8.941,50.
Di Asia Tenggara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ikut memerah. IHSG ditutup melemah 1,88% ke level 6.196,43. Di Malaysia, indeks FTSE Bursa Malaysia KLCI turun 0,79% ke posisi 1.701,02.
Bursa Filipina lewat indeks PSEI mencatatkan penurunan tipis 0,03% ke level 6.281,01. Di Vietnam, indeks HNX 30 jatuh 1,43% ke posisi 458,22. Sementara itu, bursa India dengan indeks BSE Sensex turun 0,43% ke level 76.059,77.
Hanya bursa Thailand yang berhasil melawan arus. Indeks SET Thailand naik tipis 0,20% dan berakhir di posisi 1.644,39. Kenaikan ini menjadikannya satu-satunya indeks yang menghijau di tengah kelesuan pasar Asia

