STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia merosot pada perdagangan Kamis (23/7/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (24/7/2026) WIB. Logam mulia ini turun dari level tertingginya dalam dua minggu yang dicapai pada sesi sebelumnya. Penurunan terjadi seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak naik tajam.
Mengutip CNBC, harga emas spot turun 2,1% ke posisi USD 4.041,59 per ons troi. Padahal, sehari sebelumnya harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 7 Juli. Di pasar berjangka Amerika Serikat (AS), kontrak emas untuk pengiriman Agustus merosot 2,6% menjadi USD 4.043,50 per ons troi.
Indeks dolar AS terpantau menguat 0,3%. Hal ini membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi Treasury AS 10-tahun naik ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.
Jim Wyckoff, seorang analis pasar di American Gold Exchange, memberikan analisanya. Ia menyebut lonjakan harga energi menjadi beban bagi emas.
“Harga minyak mentah yang lebih tinggi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi karena anggapan bank sentral tidak akan dapat menurunkan suku bunga mereka akibat masalah inflasi, dan kenaikan imbal hasil obligasi adalah musuh bagi pasar emas dan perak karena emas dan perak tidak memberikan imbal hasil,” ujar Jim Wyckoff.
Harga minyak mentah Brent menyentuh USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei. Kenaikan ini dipicu oleh kelompok Houthi dari Yaman yang menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi. Gangguan pasokan minyak global ini memicu kekhawatiran inflasi akan tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Kondisi tersebut membuat investor kini mengantisipasi suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Suku bunga yang tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan bunga. Pelaku pasar sekarang menunggu keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan komentar Ketua Kevin Warsh pada pertemuan kebijakan minggu depan.
Berdasarkan alat CME FedWatch, pedagang kini memperkirakan peluang 80% kenaikan suku bunga The Fed pada September. Angka ini naik signifikan jika dibandingkan dengan peluang 68% pada hari Rabu. Wyckoff memperkirakan pasar akan bereaksi terhadap nada bicara para pejabat The Fed.
“Pasar memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga (minggu depan), mungkin ada kecenderungan hawkish pada retorikanya. Namun jika Fed secara mengejutkan bersikap dovish atau hawkish, pasar akan bereaksi,” tambah Wyckoff.
Tren penurunan juga merembet ke logam mulia lainnya. Harga perak spot anjlok 4,3% ke posisi USD 57,15 per ons troi. Harga platinum juga turun 3,1% menjadi USD 1.593,17 per ons troi. Sementara itu, harga paladium terpangkas 2,8% ke level USD 1.255 per ons troi.

