STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (23/7/2026) waktu setempat. Penurunan ini menjadi yang terdalam dalam lebih dari dua minggu terakhir. Pelaku pasar bereaksi negatif terhadap laporan laba perusahaan yang lesu serta kekhawatiran kenaikan suku bunga.
Mengutip Investing, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir turun 1,3% ke posisi 638,5. Indeks ini sulit bergerak keluar dari rentang sempit sepanjang bulan ini. Ketegangan di Timur Tengah terus memperkuat kekhawatiran inflasi.
Hampir seluruh bursa utama di kawasan tersebut berakhir di zona merah. Indeks CAC 40 Perancis turun 1,64% ke level 8.299,09. Indeks DAX Jerman melemah 1,56% ke posisi 24.763,12.
Indeks FTSE 100 Inggris merosot 0,73% ke level 10.639,17. Sementara itu, IBEX 35 Spanyol jatuh 1,55% ke level 19.267,00. Indeks Euro Stoxx 50 juga terpangkas 1,63% ke posisi 6.213,80.
Bank Sentral Eropa (ECB) menahan suku bunga pada Kamis. Namun, pernyataan Presiden ECB Christine Lagarde memberikan sinyal potensi kenaikan pada September mendatang.
Claus Vistesen, kepala ekonom zona euro di Pantheon Macroeconomics, menilai arah kebijakan ECB semakin ketat. “ECB jelas condong ke arah hawkish. Keputusan pada bulan September sebagian besar akan bergantung pada lintasan harga minyak dan kondisi di Timur Tengah,” ujar Vistesen.
Harga minyak mentah Brent menyentuh USD 100 per barel pada Kamis. Pencapaian ini merupakan yang pertama kalinya sejak Mei lalu. Kenaikan terjadi setelah kelompok Houthi dari Yaman menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Sektor energi di Eropa naik 1,54% menyusul lonjakan harga minyak mentah. Namun, sektor makanan dan minuman anjlok 4,1% akibat saham Nestle yang jatuh hampir 8%. Penurunan Nestle ini menjadi kerugian terbesar perusahaan sejak tahun 1989.
Sektor teknologi juga melemah 2,9% dipimpin oleh STMicroelectronics yang ambles 17,7%. Produsen chip ini memprediksi pendapatan kuartal ketiga sedikit di bawah ekspektasi pasar. Saham BE Semiconductor ikut turun 7,3%.
Rushabh Amin, manajer portofolio multi-aset di Allspring Global Investments, melihat adanya perubahan sentimen pasar. “Anda melihat lebih banyak pertanyaan diajukan tentang dari mana pendapatan masa depan akan berasal. Bahkan jika Anda memiliki laba yang layak, ada semacam hambatan yang datang dari sedikit perubahan sentimen dan posisi pasar,” kata Amin.
Saham Soitec melonjak hampir 22% setelah pendapatan kuartalannya melampaui ekspektasi. TotalEnergies juga naik 2,5% berkat laba kuartalan terkuat dalam hampir tiga tahun. Maskapai easyJet menguat 2,7% meskipun laba kuartal ketiganya anjlok 70%.
Kabar kurang sedap datang dari grup perhutanan Finlandia, Stora Enso. Laba operasional perusahaan berada di bawah perkiraan pasar. Hal tersebut membuat sahamnya turun sekitar 8,5%.

