spot_img

Eskalasi Ketegangan AS-Iran Picu Kepanikan Pasar, Harga Minyak Mentah Global Melonjak Tajam

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Harga minyak dunia melonjak tajam pada akhir perdagangan Kamis (23/7/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (24/7/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu serangan terhadap kapal tanker di Laut Merah serta ancaman serangan militer besar-besaran dari Amerika Serikat (AS) ke Iran.

Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 7% atau bertambah 6,97 USD. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 100,69 USD per barel di London ICE Futures Exchange. Ini pertama kalinya Brent menembus angka USD 100 sejak 26 Mei lalu.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) maju sekitar 6%. Minyak WTI berakhir pada posisi 92,19 USD per barel di New York Mercantile Exchange. Sepanjang bulan ini, harga minyak sudah meroket lebih dari 30% akibat konflik di Timur Tengah.

Lonjakan harga terjadi setelah kelompok Houthi dari Yaman menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Kelompok yang bersekutu dengan Iran tersebut menggunakan drone dan rudal untuk menyerang kapal. Mereka mengklaim serangan itu sebagai bentuk pemberlakuan blokade maritim terhadap Riyadh.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan tanggapan keras atas kejadian tersebut. Trump menegaskan AS akan meminta pertanggungjawaban Iran atas setiap serangan Houthi terhadap kapal di Laut Merah. Ia mengancam akan memberikan hukuman militer besar kepada Teheran dan militan di Yaman.

Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengaku tengah mempertimbangkan serangan besar-besaran terhadap Iran. “Lebih besar dari sebelumnya. Saya hampir membuat keputusan. Kami semua sudah siap untuk itu,” ujar Trump kepada Axios.

Sebelumnya, Trump memperingatkan akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik di Iran. Tindakan ini akan dilakukan setiap kali Teheran menyerang kapal di Selat Hormuz. Iran langsung membalas ancaman tersebut dengan peringatan serangan balik terhadap infrastruktur milik AS di kawasan tersebut.

Sumber militer Iran menyampaikan pesan tersebut melalui Kantor Berita Tasnim. “Jika Amerika menargetkan jembatan atau pembangkit listrik di Iran, Iran sebaliknya akan menyerang infrastruktur dan jembatan di kawasan tersebut, termasuk fasilitas energi di mana Amerika Serikat memiliki kepentingan,” kata narasumber tersebut.

Helima Croft, Kepala Global Strategi Komoditas di RBC Capital Markets, menilai situasi ini sangat berbahaya. Menurutnya, perang AS dengan Iran telah memasuki fase yang lebih mengancam. Pertempuran kini meluas ke Laut Merah dan menargetkan infrastruktur penting seperti pembangkit desalinasi air.

Tekanan ekstrem di Timur Tengah diprediksi bisa membuat harga minyak Brent terbang lebih tinggi. Croft menyebut harga bisa melampaui level tertinggi tahun 2022 sebesar 128 USD per barel.

“Durasi penutupan masih belum pasti. Namun rute alternatif untuk Kazakhstan terbatas, artinya produksi (1,7 juta barel per hari pada bulan Juni) bisa menghadapi penghentian produksi,” kata Croft.

Dalam skenario terburuk perang regional skala penuh, harga Brent bahkan bisa melewati rekor tahun 2008 sebesar 146 USD per barel. Selain Timur Tengah, perang Ukraina-Rusia turut menekan pasar minyak global. Ukraina dilaporkan telah menyerang lebih dari 150 kapal tanker di Laut Hitam dan Laut Azov sepanjang bulan ini.

Serangan-serangan tersebut memaksa Konsorsium Pipa Kaspia (CPC) menghentikan pemuatan minyak mentah di terminal Laut Hitam. Padahal, sekitar 80% minyak mentah Kazakhstan diekspor melalui pipa tersebut. Terganggunya jalur ini membuat pasokan minyak dunia semakin menipis.

- Advertisement -

Artikel Terkait

S&P 500 Futures Stagnan, Investor Berusaha Bangkit Pasca Tekanan Harga Minyak

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) indeks S&P...

Harga Emas Dunia Merosot 2%, Tertekan Lonjakan Minyak dan Kekhawatiran Suku Bunga

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia merosot pada perdagangan...

Stock Futures Turun, Investor Cermati Laba Emiten dan Belanja AI Alphabet

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) Wall...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru