STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) berencana melakukan pembelian kembali saham atau buyback. Emiten ini menyiapkan dana maksimal Rp1,46 triliun untuk melancarkan aksi korporasi tersebut.
Rencana ini muncul karena kondisi pasar yang sedang berfluktuasi secara signifikan. MBMA menargetkan pembelian maksimal 1,54 miliar lembar saham. Manajemen MBMA akan melaksanakan buyback secara bertahap. Periode pelaksanaannya mulai 17 Juni hingga 16 September 2026.
President Director – Corporate Secretary MBMA, Teddy Nuryanto Oetomo, menjelaskan tujuan langkah ini dalam keterbukaan informasi. Aksi korporasi ini mengacu pada aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait kebijakan menjaga stabilitas pasar modal.
“Pembelian Kembali Saham ini dilakukan dalam rangka menjaga stabilitas harga saham serta meningkatkan kepercayaan investor,” tulis Teddy, dikutip Selasa (16/6/2026).
Teddy menambahkan langkah ini bertujuan agar harga saham perusahaan dapat mencerminkan nilai fundamental secara lebih wajar. MBMA akan menunjuk satu perusahaan efek untuk membantu proses transaksi melalui Bursa Efek Indonesia (BEI).
Perusahaan memastikan sumber dana untuk buyback sudah tersedia. Langkah ini diprediksi tidak akan mengganggu pendapatan maupun biaya pembiayaan perusahaan.
Berdasarkan data keuangan per 31 Desember 2025, laba periode berjalan MBMA mencapai 29,56 juta USD. Jumlah ini tidak berubah setelah rencana buyback.
Meski laba tetap, laba per saham atau earnings per share (EPS) diprediksi meningkat. EPS perusahaan diperkirakan naik dari 0,00027 USD menjadi 0,00028 USD.
Kenaikan EPS terjadi karena jumlah saham beredar akan berkurang. Rata-rata tertimbang jumlah saham diperkirakan turun dari 107,99 miliar menjadi 106,44 miliar lembar saham.
Selama masa buyback, pihak internal seperti direksi, komisaris, dan pegawai dilarang melakukan transaksi saham perusahaan. Larangan ini juga berlaku bagi pihak yang memiliki akses informasi orang dalam.
MBMA merupakan perusahaan induk yang bergerak di bidang pertambangan nikel dan mineral lainnya. Bisnis perusahaan mencakup pengolahan hingga kegiatan usaha lain yang terintegrasi secara vertikal.

