STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak tajam pada akhir perdagangan Rabu (29/7/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (30/7/2026) WIB. Kenaikan drastis ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menyerang Iran dengan keras. Langkah ini merupakan balasan atas percobaan serangan mendadak terhadap pasukan AS di Timur Tengah.
Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman mendatang melonjak 7,9%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 90,74 USD per barel di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 6,6%. Minyak WTI berakhir pada posisi 84,46 USD per barel di New York Mercantile Exchange.
Trump mengatakan kepada Fox News Iran bakal menerima pukulan berat. Hal ini merespons tindakan Korps Garda Revolusi Islam Iran yang meluncurkan rudal balistik ke arah pasukan AS. “Kami akan memukul mereka dengan keras,” ujar Trump.
Laporan Axios menyebutkan Iran menargetkan pangkalan AS di Yordania. Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan rudal-rudal tersebut berhasil dicegat. Serangan ini menghancurkan harapan gencatan senjata yang sempat membuat harga minyak turun awal pekan ini.
Helima Croft, Kepala Strategi Komoditas di RBC Capital Markets, memberikan analisanya kepada para klien. Ia meragukan adanya penyelesaian diplomatik dalam waktu dekat.
“Kami tetap sangat skeptis kita berada di ambang terobosan diplomatik besar yang akan menyelesaikan kebuntuan nuklir yang memulai perang lima bulan lalu atau memungkinkan normalisasi lalu lintas maritim,” ujar Helima.
Ketegangan tidak hanya terjadi antara AS dan Iran. Milisi sekutu Iran di Irak juga meluncurkan drone ke fasilitas minyak Arab Saudi di wilayah Riyadh dan Timur. Sebagai balasan, pesawat tempur AS dan Arab Saudi melancarkan serangan gabungan pada hari Selasa.
Di Yaman, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengaku menargetkan infrastruktur pipa Arab Saudi. Pipa ini mengangkut minyak ke terminal ekspor Yanbu di Laut Merah. Jalur ini menjadi andalan Riyadh saat pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu akibat serangan Iran.
Iran dan Houthi kini berusaha mengendalikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan Laut Merah Selatan. Kedua wilayah ini merupakan titik jalur utama ekspor minyak di Timur Tengah. Iran juga dilaporkan berulang kali menyerang tanker minyak yang melintasi Hormuz bulan ini.
Ryan McKay, Ahli Strategi Komoditas Senior di TD Securities, menilai pasar terlalu cepat berharap pada perdamaian. Ia melihat adanya pengetatan pasar energi global yang akan terus mendorong harga.
“Pasar telah mendahului harapan akan perdamaian baru, terutama mengingat desakan Iran untuk mengendalikan Selat di bawah kesepakatan potensial apa pun,” kata Ryan.
McKay menambahkan pengurangan aliran minyak bakal terus mendukung kenaikan harga minyak mentah ke depannya. Para investor kini terus memantau perkembangan situasi geopolitik yang semakin panas di kawasan tersebut.

