STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) tetap membidik pertumbuhan bisnis pada 2026 meski menghadapi tantangan dari kenaikan biaya impor dan kondisi pasar. Perseroan juga menegaskan komitmennya untuk membagikan dividen hingga sekitar 50% dari laba bersih sesuai kebijakan yang tercantum dalam prospektus.
Direktur Keuangan JEC Group, Budi Djatmiko, mengatakan pasar layanan kesehatan mata pada tahun ini diperkirakan masih dapat tumbuh sekitar 4% hingga 5%. Perseroan akan berupaya menjaga pertumbuhan di tengah tekanan biaya akibat tingginya kandungan impor obat-obatan dan peralatan medis.
“Ada kemungkinan dan juga kita tetap berusaha kalau toh memang kita bertumbuh daripada pasarnya itu sendiri plus minus itu kurang lebih sekitar 4 sampai 5% yang bisa kita capai di tahun 2026,” kata Budi saat sesi tanya jawab usai pencatatan saham perdana JECX di Bursa Efek Indonesia.
Menurut dia, pelemahan nilai tukar dan tingginya kandungan impor obat serta alat kesehatan berpotensi memengaruhi struktur biaya Perseroan. Karena itu, JECX memilih meningkatkan efisiensi dan memperkuat kerja sama dengan para pemangku kepentingan dibanding langsung menaikkan harga layanan.
Budi menambahkan, target pendapatan Perseroan pada tahun ini berada di kisaran Rp320 miliar. Namun realisasinya masih bergantung pada perkembangan biaya yang dipengaruhi komponen impor.
“Mungkin 10% bisa turun segala macam itu mengacu kepada pergerakan biaya-biaya yang sifatnya dari impor komponennya itu sendiri. Kita itu masih belum mau menyesuaikan harga jual kita. Jadi yang harus dilakukan adalah kerja sama dengan para stakeholder untuk melakukan pengurangan biaya-biaya,” ujarnya.
Di sisi profitabilitas, Budi menjelaskan JEC mencatat peningkatan kinerja dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, laba bersih naik sekitar 16% menjadi Rp72,3 miliar dari Rp62 miliar pada tahun sebelumnya, sementara pertumbuhan pendapatan berada di kisaran 4% hingga 5%.
“Ini menandakan pertumbuhan profitabilitas kami berkaitan dengan efisiensi dan juga kinerja pengelolaan keuangan perusahaan,” kata Budi.
Selain itu, EBITDA juga terus menunjukkan pertumbuhan sekitar 15% pada periode 2024 hingga 2026.
Terkait dividen, Budi mengatakan Perseroan berkomitmen membagikan sekitar 50% laba bersih setelah dikurangi cadangan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan pembagian dividen tetap menunggu keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
“Di prospektus kita mengatakan setiap tahunnya kita akan bagikan sekitar 50% dari laba bersih setelah dikurangi cadangan-cadangan sesuai ketentuan. Tentunya pembagian dividen mengacu kepada keputusan RUPS nantinya,” ujarnya.
Ia menambahkan hingga saat ini realisasi kinerja Perseroan telah mencapai sekitar 60% dari target yang ditetapkan untuk tahun berjalan.
Menjawab pertanyaan mengenai komitmen pemegang saham pasca-IPO, Budi mengatakan pemegang saham pengendali, PT Mitra Selaras Loka (MSL), berkomitmen mempertahankan kepemilikan sahamnya selama 12 bulan sejak efektifnya IPO. Komitmen serupa juga diberikan oleh pemegang saham besar lainnya, Samei.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Nitrasanata Dharma Tbk, Muharyanto, S.H., M.H., mengatakan mayoritas pemegang saham JEC merupakan dokter yang memiliki komitmen menjaga kepemilikan saham Perseroan.
“JEC itu sangat unik karena dibangun dari dokter untuk dokter. Dari 67 pemegang saham, hampir 72% dimiliki oleh dokter. Kami membangun komunikasi dengan para dokter untuk terus menjaga kepemilikan saham mereka di JEC,” ujar Muharyanto.
Ia menegaskan komitmen tersebut tidak hanya tercermin dalam dokumen lock-up, tetapi juga dalam kesediaan para dokter pemegang saham untuk tetap mendukung operasional dan menjaga kepemilikan saham Perseroan dalam jangka panjang.
Sebelumnya, PT Nitrasanata Dharma Tbk resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia pada Selasa (7/7/2026) dengan kode saham JECX. Perseroan melepas 487.983.500 saham atau 15% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO dengan harga penawaran Rp1.250 per saham. Dari aksi korporasi tersebut, Perseroan menghimpun dana Rp609,98 miliar dan mencatat kapitalisasi pasar sekitar Rp4,07 triliun. Dana hasil penerbitan saham baru akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan, mendukung pengembangan entitas anak, serta memenuhi kebutuhan modal kerja, termasuk pembangunan JEC Bali @ Sanur sebagai pusat layanan medical tourism.

