STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak tipis pada perdagangan Selasa malam (7/7/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (8/7/2026) WIB. Investor mencermati meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, lonjakan harga minyak, serta menunggu risalah rapat kebijakan terbaru Federal Reserve (The Fed).
Mengutip CNBC, futures Dow Jones Industrial Average turun 29 poin. Sementara itu, futures S&P 500 dan Nasdaq 100 futures masing-masing melemah sekitar 0,1%.
Sentimen pasar dipengaruhi aksi militer AS terhadap Iran. U.S. Central Command menyatakan AS melancarkan “serangkaian serangan kuat” terhadap Iran sebagai balasan atas serangan terhadap tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Sebelumnya, Departemen Keuangan AS juga mencabut izin yang memperbolehkan Iran menjual minyaknya ke pasar global setelah insiden di Selat Hormuz. Di tengah perkembangan tersebut, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 2% hingga menembus USD72 per barel.
Pasar juga memperkirakan bursa saham Asia-Pasifik dibuka didominasi pelemahan pada Rabu (8/7/2026).
Kontrak berjangka indeks Nikkei 225 di Chicago diperdagangkan di level 67.725, lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya di 68.256,96. Kontrak berjangka S&P/ASX 200 Australia berada di 8.743, di bawah posisi penutupan 8.803,90.
Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong berada di level 23.499, relatif stabil dibanding penutupan sebelumnya di 23.496,89.
Pada perdagangan reguler Selasa (7/7/2026), investor melakukan rotasi dari saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kenaikan harga minyak juga menekan sentimen pasar.
Indeks Dow Jones sempat mencetak rekor intraday baru sebelum akhirnya ditutup turun lebih dari 100 poin. Indeks S&P 500 melemah sekitar 0,5%, sedangkan Nasdaq Composite turun sekitar 1,2% akibat aksi jual pada saham-saham produsen cip.
Perhatian investor kini tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Juni yang dijadwalkan dirilis pukul 14.00 waktu Timur AS pada Rabu (8/7/2026).
Dokumen tersebut diperkirakan memberikan gambaran lebih rinci mengenai rapat kebijakan pertama yang dipimpin Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh. Pada rapat tersebut, bank sentral mempertahankan suku bunga, namun memberi sinyal kenaikan suku bunga masih mungkin dilakukan jika tekanan inflasi berlanjut.
Pendiri Vital Knowledge, Adam Crisafulli, menilai risalah rapat FOMC berpotensi menjadi perhatian utama pelaku pasar.
“Risalah FOMC akan menjadi faktor yang sulit diprediksi karena Warsh sangat tertutup dalam konferensi pers terakhir,” ujar Crisafulli.
Ia menambahkan, tidak seperti pendahulunya, Warsh tidak banyak menjelaskan pembahasan dalam rapat tersebut.
“Biasanya Powell memberikan penjelasan yang cukup lengkap mengenai jalannya rapat. Hal itu tidak terjadi pada Warsh. Karena itu, risalah rapat yang kemungkinan bernada hawkish dapat memuat sejumlah kejutan,” kata Crisafulli.

