spot_img

IEEFA: Konversi LPG ke CNG dan DME Berisiko Tambah Beban Subsidi Negara

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menilai rencana penggantian liquified petroleum gas (LPG) 3 kilogram ke compressed natural gas (CNG) dan dimethyl ether (DME) berbahan batu bara berpotensi menciptakan beban subsidi baru yang lebih besar bagi negara. Sebaliknya, penggunaan kompor induksi dinilai lebih ekonomis dan mampu memperkuat ketahanan energi nasional.

Dalam laporan berjudul Solving Indonesia’s LPG subsidy challenge requires induction, not swapping fuels, IEEFA menyebut penggantian LPG dengan bahan bakar lain tidak otomatis mengurangi subsidi energi. Selama biaya penyediaan CNG dan DME masih lebih tinggi dibanding LPG, beban subsidi hanya akan berpindah ke komoditas lain. Kompor induksi dinilai menjadi opsi paling ekonomis karena memanfaatkan jaringan listrik yang sudah tersedia tanpa memerlukan pembangunan rantai pasok bahan bakar baru.

Energy Finance Specialist IEEFA untuk Indonesia, Randi Bachtiar, mengatakan pengembangan CNG membutuhkan investasi besar untuk fasilitas kompresi, tabung bertekanan tinggi, jaringan distribusi, perangkat konversi, serta sistem pengaman pada kompor. Selain itu, Indonesia juga menghadapi keterbatasan pasokan gas domestik karena produksi gas turun sekitar 4% per tahun, sementara kebutuhan industri dan pembangkit terus meningkat.

Analisis IEEFA menunjukkan, meski mendapat dukungan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), biaya CNG untuk rumah tangga hanya memberikan penghematan sekitar 19,6% dibanding biaya ekonomi LPG. Angka tersebut lebih rendah dibanding klaim pemerintah yang mencapai 30%-40%. Persoalannya, volume gas HGBT terbatas dan diprioritaskan bagi sektor industri. Akibatnya, penyedia CNG berpotensi menggunakan LNG hasil regasifikasi dengan harga pasar sehingga biaya CNG dapat melampaui biaya ekonomi LPG.

“Kemungkinan besar tidak ada surplus pasokan gas yang tersedia untuk program memasak nasional. Sebab setiap unit gas yang dialokasikan untuk rumah tangga akan mengorbankan sektor lain atau menyebabkan peningkatan impor LNG. Artinya program CNG untuk rumah tangga justru akan meningkatkan biaya,” ujar Randi dikutip Jumat (17/7/2026).

IEEFA juga memperkirakan penggunaan DME membutuhkan subsidi sekitar Rp22.730 per kilogram setara LPG, atau 2,3 kali lebih besar dibanding subsidi LPG saat ini sebesar Rp10.000 per kilogram. Jika mengacu pada konsumsi LPG tahun 2025 sebesar 9,24 juta ton, konversi ke DME akan membutuhkan subsidi sekitar Rp194 triliun per tahun. Nilai tersebut lebih dari dua kali lipat subsidi LPG 2025 sebesar Rp87 triliun dan hampir setara dengan total subsidi serta kompensasi listrik kepada PLN yang mencapai Rp200 triliun.

Menurut Randi, sejumlah investor seperti Air Products juga telah menarik diri dari proyek DME karena dinilai tidak layak secara ekonomi. Saat ini, enam proyek DME di Sumatera dan Kalimantan berada di bawah supervisi Danantara. “Dengan skema pendanaan baru melalui badan usaha dalam negeri di bawah struktur Danantara, risiko kerugian dinilai hanya akan berpindah dari investor asing kepada negara,” kata Randi.

Di sisi lain, kompor induksi dinilai lebih efisien karena memanfaatkan kapasitas listrik yang telah tersedia. IEEFA memperkirakan konversi sekitar 42 juta rumah tangga penerima subsidi LPG ke kompor induksi membutuhkan investasi awal sekitar Rp105 triliun. Investasi tersebut diperkirakan dapat kembali dalam waktu sekitar 1,7 tahun melalui penghematan subsidi LPG, dengan potensi penghematan fiskal hampir Rp200 triliun dalam lima tahun.

Selain itu, peralihan ke kompor induksi juga berpotensi mengurangi impor LPG yang saat ini menghabiskan devisa sekitar Rp130 triliun hingga Rp140 triliun per tahun dan membebani APBN ketika nilai tukar rupiah melemah maupun harga energi global meningkat.

Randi menegaskan reformasi subsidi seharusnya tidak hanya berfokus pada penggantian jenis bahan bakar, tetapi juga memperbaiki mekanisme penyaluran agar subsidi tepat sasaran.

“Daripada memilih bahan bakar pengganti terlebih dahulu dan menghitung biayanya kemudian, Indonesia perlu memprioritaskan reformasi penyaluran subsidi agar lebih tepat sasaran. Alternatif energi juga harus dipilih berdasarkan manfaat ekonomi yang dihasilkannya. Kompor induksi menawarkan manfaat paling besar dibandingkan CNG maupun DME karena mampu menekan beban subsidi, mengurangi ketergantungan pada impor LPG, sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang,” pungkas Randi.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

PMI-BI Triwulan II 2026 Capai 51,43%, Industri Pengolahan Tetap Ekspansif

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  – Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja lapangan...

Prabowo Kick Off Proyek LNG Abadi Masela, Siap Produksi 9,5 Juta Ton LNG per Tahun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  – Presiden Prabowo Subianto memulai pembangunan atau...

Presiden Prabowo Resmikan Groundbreaking Proyek LNG Abadi Masela USD20,9 Miliar

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  – Presiden Prabowo Subianto meresmikan groundbreaking Proyek...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru