STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) memberikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait kondisi operasional dan penurunan performa keuangan per Maret 2026. Salah satu poin krusial adalah penurunan saldo kas perusahaan yang mencapai 49,31% hanya dalam waktu tiga bulan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian 31 Maret 2026, saldo kas dan setara kas ADCP menyusut dari Rp28,18 miliar pada Desember 2025 menjadi Rp14,29 miliar. Direktur Keuangan ADCP, Achmad Wachid Abdullah menjelaskan penyebab utama penurunan ini adalah penggunaan dana untuk aktivitas pendanaan.
“Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh arus kas neto yang digunakan untuk aktivitas pendanaan sebesar Rp13,64 miliar, khususnya pembayaran beban pinjaman (bunga) sebesar Rp15,94 miliar,” ujar Achmad dalam keterbukaan informasi di Jakarta, Kamis (23/07/2026).
Selain beban bunga, rendahnya penerimaan kas dari pelanggan akibat perlambatan penjualan juga menekan posisi kas perusahaan. ADCP kini menerapkan strategi cash-based budgeting yang ketat. Perusahaan memprioritaskan alokasi dana hanya untuk proyek dengan progres penjualan tinggi dan kebutuhan operasional kritis.
ADCP juga menghadapi tantangan pada proyek-proyek propertinya. Sebanyak 12 proyek mengalami perubahan estimasi waktu penyelesaian. Proyek Adhi City Sentul misalnya, kini ditargetkan selesai pada 2034 dari estimasi sebelumnya di 2024. Penyesuaian ini dipicu oleh kondisi serapan pasar dan persiapan infrastruktur yang membutuhkan waktu lebih lama.
Mengenai penurunan progres proyek Cisauk Point dari 96% pada 2023 menjadi 60% pada 2024, Achmad memberikan klarifikasi. Menurut dia, hal ini bukan karena kemunduran pembangunan, melainkan perbedaan basis perhitungan.
“Pada tahun 2023, angka realisasi 96% dihitung berdasarkan progres pembangunan Tower 1. Sementara itu, pada tahun 2024 dan 2025, angka realisasi dihitung berdasarkan progres pembangunan Tower 2 yang baru memasuki tahap pembangunan podium,” kata Achmad.
Tantangan lain yang dihadapi ADCP adalah piutang usaha yang 80% di antaranya telah jatuh tempo. Kendala penagihan dipengaruhi pelemahan daya beli pelanggan serta proses administrasi perbankan untuk KPR/KPA yang semakin selektif. Perusahaan juga mencatatkan kenaikan beban keuangan hingga 705,10%.
Lonjakan beban keuangan ini terjadi karena ADCP menghentikan kapitalisasi biaya pinjaman ke nilai persediaan. Langkah ini diambil setelah perusahaan melakukan penilaian impairment atau penurunan nilai wajar persediaan pada Desember 2025.
Untuk mengantisipasi risiko gagal bayar (default), ADCP menjalankan program pemulihan melalui restrukturisasi dan reprofiling kewajiban keuangan. Langkah ini mencakup obligasi, sukuk, serta fasilitas kredit dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). Perusahaan mengonfirmasi telah mendapatkan waiver atau keringanan pemenuhan rasio keuangan dari BTN.
ADCP juga melakukan efisiensi pada pos beban umum dan administrasi. Beban pegawai tercatat turun 31,81% dari Rp5,13 miliar menjadi Rp3,50 miliar. Penurunan ini merupakan bagian dari penyesuaian jumlah tenaga kerja proyek sesuai tahapan konstruksi yang sedang berjalan.
Ke depan, strategi pengembangan ADCP akan fokus pada monetisasi aset idle dan optimalisasi penjualan produk ready stock. Perusahaan juga menjajaki kerja sama dengan mitra strategis melalui skema turnkey untuk mempercepat penyelesaian proyek tanpa membebani arus kas internal secara berlebihan.

