spot_img

Stock Futures Wall Street Menguat, Harga Minyak Dunia Susut 5%

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat (AS) menguat pada Minggu malam (26/7/2026) waktu setempat atau Senin pagi (27/7/2026) WIB. Di saat bersamaan, harga minyak mentah dunia justru mengalami penurunan tajam.

Mengutip CNBC, kondisi ini terjadi di tengah jeda konflik bersenjata antara AS dan Iran selama akhir pekan. Investor kini mulai mengalihkan fokus pada laporan keuangan perusahaan teknologi raksasa (megacap) dan pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve (Fed).

Data pasar menunjukkan futures Dow Jones Industrial Average naik 294 poin atau 0,6%. Futures S&P 500 menguat 0,7%. Sementara itu, futures Nasdaq 100 melompat hingga 1,2%.

Harga minyak mentah dunia bergerak berlawanan arah. Harga minyak Brent merosot lebih dari 5% ke level USD 92 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga anjlok 5% menjadi sekitar USD 85 per barel.

Ketegangan geopolitik sempat memanas pada Minggu setelah Ukraina menyerang kapal komersial Iran di Laut Kaspia. Teheran menuduh Kyiv melakukan “tindakan permusuhan dan kriminal”. Insiden tersebut berlangsung saat AS dan Iran menghentikan sementara serangan udara setelah dua pekan eskalasi konflik.

Pasar saham AS sebelumnya menutup pekan lalu dengan rapor merah. Penurunan saham sektor chip dan ketidakpastian perang membebani para pemodal. S&P 500 dan Nasdaq masing-masing terkoreksi 0,6% dan 2,1% pada Jumat lalu. Dow Jones juga turun 0,4% sekaligus mencatat pelemahan tiga minggu berturut-turut.

Pekan ini para pelaku pasar menanti laporan keuangan kuartalan dari Amazon, Apple, Meta Platforms, dan Microsoft. Hasil kinerja ini akan menjadi penentu arah sektor kecerdasan buatan (AI) setelah laporan Alphabet mengecewakan pasar pekan lalu.

CEO Mahoney Asset Management, Ken Mahoney memberikan analisis terkait situasi ini. Menurutnya, fokus utama investor adalah pada keberlanjutan pengeluaran perusahaan di sektor AI.

“Risiko terbesar adalah kelanjutan dari pengeluaran tersebut,” kata Ken.

Ia menjelaskan adanya dilema bagi perusahaan teknologi dalam mengelola ekspektasi pemegang saham. Jika mereka mengurangi pertumbuhan belanja AI, pasar kemungkinan besar akan merespons negatif.

“Jadi ada faktor jungkat-jungkit di sini,” ujar Ken.

Selain laporan keuangan, perhatian pasar tertuju pada pengumuman suku bunga Fed pada Rabu mendatang. Konsensus pasar memprediksi kenaikan suku bunga baru akan terjadi pada September. Namun, data CME FedWatch Tool menunjukkan adanya peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 0,25% pada pekan ini.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harga Minyak Dunia Anjlok 5%, Ini Penyebabnya

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia turun sekitar 5%...

Harga Emas Dunia Kembali Menguat Jelang Rapat The Fed

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali menguat pada...

Ada Upaya Damai Pakistan, Harga Minyak Dunia Merosot Hingga 4%

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot hingga 4%...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru