STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) membukukan pendapatan usaha sebesar Rp729,68 miliar pada semester I-2026. Nilai tersebut meningkat 2,20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp714,00 miliar.
Kinerja tersebut diraih di tengah tantangan industri maritim global, terutama kenaikan harga energi yang mendorong peningkatan biaya operasional kapal. Meski demikian, Perseroan mampu menjaga pertumbuhan melalui peningkatan efektivitas operasional, produktivitas armada, optimalisasi layanan, serta penguatan sinergi di lingkungan Pelindo Group.
Kontributor terbesar pendapatan IPCM masih berasal dari jasa pelayanan kapal yang mencapai Rp704,27 miliar atau sekitar 96,52% dari total pendapatan. Segmen ini ditopang oleh kenaikan pendapatan jasa penundaan kapal sebesar 3,94% secara tahunan menjadi Rp664,42 miliar.
Sejumlah lini bisnis lain juga mencatat pertumbuhan. Pendapatan jasa pelayanan kapal di Pelabuhan Umum (Pelum) naik 6,54% menjadi Rp326,53 miliar. Pendapatan dari Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) meningkat 11,42% menjadi Rp139,90 miliar. Sementara pendapatan jasa pengangkutan dan layanan lainnya tumbuh 7,89% menjadi Rp25,42 miliar.
Perseroan juga melihat prospek positif pada segmen Terminal Khusus (Tersus). Peluang tersebut didorong meningkatnya aktivitas kepelabuhanan, termasuk rencana kunjungan rutin kapal asing berukuran Handymax/Supramax hingga Panamax di Pelabuhan Patimban sebanyak tiga hingga empat kali setiap bulan. Kehadiran kapal-kapal kontainer berukuran besar di pelabuhan tersebut diperkirakan akan meningkatkan permintaan layanan pemanduan dan penundaan kapal yang menjadi bisnis utama IPCM.
Direktur Utama PT Jasa Armada Indonesia Tbk, Shanti Puruhita, mengatakan semester I-2026 menjadi periode yang penuh tantangan bagi industri maritim. Meski begitu, IPCM tetap mampu mempertahankan pertumbuhan pendapatan.
“Kenaikan harga energi global memberikan tekanan terhadap biaya operasional industri pelayaran. Namun demikian, IPCM tetap mampu menjaga pertumbuhan pendapatan melalui peningkatan efektivitas operasional, optimalisasi utilisasi armada, serta penguatan sinergi dengan Pelindo Group. Hal ini mencerminkan ketahanan model bisnis Perseroan dalam menghadapi dinamika eksternal,” ujar Shanti dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).
Dari sisi pengembangan pasar, kontribusi segmen captive market Pelindo mencapai 63,92% terhadap total pendapatan. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 60,51%. Kondisi ini menunjukkan semakin kuatnya sinergi dalam ekosistem Pelindo Group sekaligus memperkokoh posisi IPCM sebagai penyedia layanan marine.
Fundamental keuangan Perseroan juga tetap solid. Hingga akhir Juni 2026, total aset IPCM meningkat 2,32% dibandingkan posisi akhir 2025 menjadi Rp1,75 triliun. Adapun aset lancar naik 4,79% menjadi Rp1,06 triliun, mencerminkan kemampuan Perseroan menjaga likuiditas dan mendukung pengembangan usaha secara berkelanjutan.
Selain mencatat pertumbuhan kinerja, IPCM juga memberikan nilai tambah kepada pemegang saham. Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 23 Juni 2026 menyetujui penggunaan laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp196,44 miliar untuk pembagian dividen final senilai Rp125,51 miliar atau sekitar 63,90% dari laba bersih. Dividen yang dibagikan sebesar Rp23,75 per saham dan telah didistribusikan pada 24 Juli 2026.
Di bidang keberlanjutan, IPCM meraih penghargaan Indonesia Best CSR in Pilotage & Towage Sector 2026 pada ajang Indonesia Best CSR Awards 2026. Penghargaan tersebut diberikan atas pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dinilai memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan IPCM, Eddy Haristiani, menegaskan Perseroan akan terus menjalankan bisnis yang berkelanjutan.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi IPCM untuk terus meningkatkan kualitas program TJSL agar memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan. Kami meyakini bahwa pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan harus berjalan seiring dengan penciptaan nilai sosial dan lingkungan bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutup Eddy.

