STOCKWATCH.ID (SURABAYA) – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) atau Bank Jatim mencatatkan kinerja gemilang pada paruh pertama tahun 2026. Emiten perbankan ini berhasil membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp1,25 triliun selama periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026.
Berdasarkan laporan keuangan BJTM yang dipublikasikan Kamis (30/7/2026), perolehan laba tersebut melonjak tajam 53,49% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 sebesar Rp811,11 miliar. Pertumbuhan ini menunjukkan akselerasi bisnis yang kuat setelah langkah ekspansi grup melalui konsolidasi beberapa bank daerah lainnya.
Peningkatan laba BJTM didorong oleh kenaikan signifikan pada pendapatan bunga dan syariah. Sepanjang semester I 2026, pendapatan bunga dan syariah konsolidasian mencapai Rp6,72 triliun. Angka ini meningkat 36,15% dari Rp4,94 triliun pada semester I 2025. Alhasil, pendapatan bunga bersih BJTM tercatat sebesar Rp4,77 triliun, tumbuh dari Rp3,43 triliun pada tahun sebelumnya.
Dari sisi operasional, BJTM mengelola beban dengan cermat meski terdapat peningkatan biaya seiring ekspansi. Total beban operasional lain tercatat Rp4,06 triliun pada Juni 2026. Kontributor utama beban ini adalah biaya tenaga kerja sebesar Rp1,96 triliun dan beban umum administrasi Rp1,07 triliun. BJTM juga mencatat pendapatan non-operasional bersih sebesar Rp148,64 miliar, berbalik positif dari posisi rugi non-operasional Rp22,31 miliar pada Juni 2025.
Jika menilik kinerja tahun buku sebelumnya, Bank Jatim juga menunjukkan tren positif. Laba bersih entitas induk untuk tahun penuh 2025 mencapai Rp850,18 miliar, tumbuh 3,49% dibandingkan realisasi tahun 2024 sebesar Rp821,50 miliar.
Hingga 30 Juni 2026, total aset konsolidasian Bank Jatim tercatat sebesar Rp162,06 triliun. Meskipun sedikit terkoreksi dari posisi Desember 2025 sebesar Rp168,85 triliun, BJTM tetap menjaga struktur neraca yang kuat. Jumlah liabilitas Perseroan mencapai Rp140,41 triliun dengan total ekuitas sebesar Rp21,64 triliun per Juni 2026.
Sebagai lembaga perbankan, BJTM menjaga rasio keuangan tetap sehat. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) Bruto berada di level 3,04% per Juni 2026, dengan NPL Neto sebesar 1,14%. Sementara itu, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) konsolidasian BJTM tercatat sangat kuat di level 27,59%.
Manajemen BJTM menegaskan komitmennya terhadap transparansi dan kebenaran data keuangan perusahaan. “Semua informasi dalam laporan keuangan konsolidasian PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk dan Entitas Anak telah dimuat secara lengkap dan benar,” tegas Direktur Utama Winardi Legowo dan Direktur Keuangan & Tresuri Wahyukusumo W. dalam surat pernyataan direksi dikutip dari keterbukaan informasi Jumat (31/7/2026).
Saat ini, BJTM telah memiliki kepemilikan langsung pada beberapa entitas anak, termasuk PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Barat Syariah (NTBS), PT Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (BNTT), PT Bank Pembangunan Daerah Lampung (BLAM), dan PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara (BSTR). Konsolidasi ini memperluas jangkauan BJTM di pasar perbankan daerah nasional.

