STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan entitas anak mencatatkan kinerja positif pada awal tahun ini. Perseroan membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp14,7 triliun sepanjang kuartal I 2026. Berdasarkan laporan kinerja per Maret 2026, pertumbuhan laba ini ditopang oleh penyaluran kredit yang tetap solid di tengah dinamika ekonomi. Total kredit BCA naik 5,6% secara tahunan (YoY) menjadi Rp994 triliun.
Penyaluran kredit produktif menjadi motor utama pertumbuhan dengan nilai mencapai Rp760,2 triliun atau meningkat 7,8% YoY. Selain itu, BCA juga mencatat pertumbuhan signifikan pada sektor-sektor berkelanjutan (ESG). Penyaluran kredit ke sektor ini tumbuh 10,0% YoY menjadi Rp258,4 triliun, setara 26,0% dari total portofolio pembiayaan.
Kredit UMKM turut mencatatkan kenaikan 12% YoY dengan outstanding Rp146 triliun. Sementara itu, pembiayaan hijau (green financing) naik 7,7% YoY menjadi Rp113 triliun. Lonjakan tertinggi terjadi pada sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang meroket 53,5% YoY.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menjelaskan faktor pendorong kinerja Perseroan. Menurutnya, momentum Ramadan dan Idulfitri menjadi salah satu pemicu utama.
“Mengawali 2026, kinerja BCA dipengaruhi momentum Ramadan dan Idulfitri yang mendukung kinerja kredit. Tak hanya itu, BCA Expoversary 2026 yang dilaksanakan sejak Februari 2026 juga mendapatkan antusiasme tinggi dari nasabah dan masyarakat,” kata Hendra di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Dari sisi pendanaan, BCA menjaga kekuatan neraca melalui pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 8,3% YoY menjadi Rp1.292,4 triliun. Pendanaan ini didominasi oleh dana murah atau CASA (giro dan tabungan) sebesar Rp1.089 triliun. Nilai CASA ini tumbuh 11,2% YoY dan berkontribusi sekitar 85,2% dari total DPK.
Peningkatan CASA sejalan dengan pengembangan perbankan transaksi pada kanal digital dan non-digital. Per akhir Maret 2026, BCA melayani 44 juta rekening nasabah dan memproses lebih dari 122 juta transaksi setiap harinya.
Mengenai kualitas aset, BCA menerapkan manajemen risiko secara disiplin. Rasio loan at risk (LAR) berada di level 5,1%. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) terjaga di angka 1,8%.
Kekuatan neraca juga tercermin dari rasio pencadangan yang solid. Perseroan mencatatkan rasio pencadangan LAR sebesar 69,7% dan NPL sebesar 174,6%.
Hendra Lembong menambahkan perusahaan terus berinovasi melalui aplikasi myBCA. Fitur terbaru “Layanan Cabang” memungkinkan nasabah memesan banknotes untuk diambil di cabang. Selain itu, BCA meluncurkan Ocean by BCA sebagai portal bisnis digital terintegrasi.
“Ocean by BCA memungkinkan pelaku usaha mengakses dasbor bisnis terintegrasi, rekomendasi solusi dan akses langsung ke e-channel, serta help center dari satu platform,” ujar Hendra.
