Dolar Babak Belur Akibat Penundaan Tarif Trump , Euro dan Yen Langsung Tancap Gas

STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Dolar AS merosot tajam pada penutupan perdagangan Jumat (14/2/2025) waktu setempat atau Sabtu pagi (15/2/2025) WIB. Mata uang Negeri Paman Sam ini tertekan setelah Presiden Donald Trump menunda rencana tarif dagang. Keputusan itu membuat pasar lebih optimistis, sehingga dolar berada di jalur kerugian mingguan.

Mengutip CNBC International, indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap mata uang utama lainnya, tercatat turun 0,5% ke level 106,78, mendekati titik terendah sejak 12 Desember. Secara mingguan, dolar sudah anjlok 1,3%. Sentimen negatif semakin kuat setelah data penjualan ritel AS menunjukkan penurunan lebih besar dari perkiraan pada Januari.

Euro langsung memanfaatkan momentum ini dan menguat 0,4% ke US$1,05, bahkan sempat menyentuh US$1,0514, tertinggi sejak 27 Januari. Secara mingguan, euro melonjak 1,6%. Yen Jepang juga menguat hampir 0,4% terhadap dolar, bertengger di level 152,26 per dolar AS.

Pasar semakin yakin bahwa The Fed bakal memangkas suku bunga dua kali tahun ini. Taruhan para trader terhadap pemangkasan suku bunga semakin meningkat setelah laporan harga produsen AS mengindikasikan inflasi inti yang lebih rendah dari perkiraan.

Trump sendiri baru saja menginstruksikan tim ekonominya untuk menyusun rencana tarif balasan terhadap negara-negara yang mengenakan pajak impor pada produk AS. Namun, langkah ini dinilai masih sebatas manuver politik untuk membuka negosiasi dengan mitra dagang utama.

Di sisi lain, optimisme terhadap potensi kesepakatan damai Rusia-Ukraina juga menekan dolar. Kesepakatan ini bisa menjadi angin segar bagi pertumbuhan ekonomi Eropa, sehingga mata uang euro mendapat dorongan lebih kuat.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance memperingatkan Rusia bahwa Washington siap menjatuhkan sanksi tambahan jika Moskow tidak setuju dengan perjanjian damai yang adil. Trump bahkan sudah berbicara langsung dengan Vladimir Putin dan Volodymyr Zelenskiy untuk membahas perang ini.

Dengan kombinasi faktor ini, pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 40 basis poin tahun ini. Padahal, sebelumnya ekspektasi pemangkasan suku bunga sempat berkurang setelah data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan pada Rabu lalu.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Kepala BP BUMN Apresiasi Kinerja Hutama Karya: Cetak Laba Rp3,09 Triliun dan Pangkas Utang 15,9%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) — PT Hutama Karya (Persero) mencatatkan kinerja...

Rupiah Melemah Tajam, Begini Strategi Mitigasi Bos Astra (ASII) dan BCA (BBCA)

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika...

Meskipun Penjualan Naik, Laba GUNA Susut 30,8% di Kuartal I 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Gunanusa Eramandiri Tbk (GUNA) membukukan...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru