back to top

Rabu Besok BEI Ketemu MSCI, Bahas Apa?

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mematangkan rencana kenaikan batas minimum saham beredar di publik atau free float. Batas minimum ini akan naik dari 7,5% menjadi 15%. Pihak bursa tengah menyiapkan berbagai strategi untuk menyeimbangkan pasokan saham baru dengan peningkatan permintaan pasar.

Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyampaikan hal ini dalam acara CNBC Indonesia Market Outlook di Gedung BEI Jakarta, Selasa (3/3/2026). BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga intens berkomunikasi dengan penyedia indeks global seperti MSCI dan FTSE.

Pertemuan dengan pihak global mencakup level kebijakan hingga rapat teknis. Tim OJK, lembaga Self-Regulatory Organization (SRO), dan MSCI dijadwalkan kembali menggelar pertemuan teknis pada Rabu sore. BEI berharap komunikasi ini terus membawa hasil positif.

Jeffrey menegaskan pentingnya komunikasi kepada publik dan pelaku pasar terkait aturan free float ini. Pihak bursa terus menampung keluhan dan mencari jalan keluar bersama para pelaku pasar modal.

“Sebagai regulator tentu kami tidak hanya mengeluarkan aturan kemudian diikuti dengan sanksi. Kami juga bisa bersama-sama dengan pelaku untuk mencari solusi bersama untuk melakukan pendalaman pasar yang lebih baik,” ujar Jeffrey.

Aturan free float ini ternyata bukan tuntutan utama dari MSCI. Ide awal pendalaman pasar ini datang dari Mukhamad Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR RI. BEI kemudian memasukkan ide cemerlang ini ke dalam proposal pembenahan pasar. Pihak MSCI ternyata menyambut sangat baik langkah tersebut.

Kenaikan free float pasti memicu lonjakan pasokan saham di pasar. BEI sudah menyiapkan strategi mitigasi dengan menggenjot permintaan. Komunikasi intens dengan penyedia indeks global bertujuan menahan sekaligus menarik lebih banyak aliran dana asing ke dalam negeri.

Pemerintah juga ikut memberikan dukungan nyata. Regulasi baru kini memberi keleluasaan lebih bagi dana pensiun dan asuransi untuk berinvestasi di instrumen saham. Kebijakan ini akan menciptakan ceruk permintaan baru di bursa.

Potensi permintaan terbesar justru datang dari ledakan jumlah investor ritel domestik. Pertumbuhannya terbilang sangat luar biasa. Sepanjang tahun 2025, pasar modal Indonesia mencatat tambahan 5,4 juta investor baru.

Tren positif ini terus berlanjut pada awal tahun ini. Sejak awal Januari hingga minggu ketiga Februari 2026, jumlah investor baru melonjak tajam mencapai 2,5 juta orang. Penambahan ini terjadi hanya dalam kurun waktu satu setengah bulan.

“Itu adalah potensi tambahan permintaan yang luar biasa,” ungkap Jeffrey.

BEI juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan visibilitas emiten lokal. Petinggi bursa telah bertemu langsung dengan Presiden Bloomberg. Pertemuan ini membahas cara meningkatkan kapasitas Hubungan Investor (Investor Relation) emiten agar lebih mudah dicari di platform global tersebut.

Langkah strategis lainnya meliputi perluasan program Public Expose Live. BEI juga akan mengajak lebih banyak emiten lokal ikut serta dalam promosi atau roadshow bersama perusahaan sekuritas global.

Meski bursa sudah menyiapkan berbagai solusi penunjang, emiten tetap memiliki tugas utama. Kualitas perusahaan tetap menjadi kunci utama menarik minat para pemodal.

“Tentu pada saat yang bersamaan emiten-emiten kita juga harus melakukan PR-nya, meningkatkan fundamentalnya, meningkatkan kinerjanya,” tegas Jeffrey.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Kejar Standar MSCI, OJK Targetkan Aturan Baru Pasar Modal Rampung Maret 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membawa kabar...

Proyek Wayang Windu Kelar, BREN Bidik 1 Gigawatt Kapasitas Panas Bumi di Tahun 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Barito Renewables Tbk (BREN), melalui anak usahanya,...

OJK Ungkap Deretan Sanksi Bagi Pelanggar Pasar Modal! Ini Rinciannya

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan pemberian...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru