back to top

Rela Terdilusi, Pemegang Saham Pengendali Lepas Hak Right Issue Anabatic (ATIC)! Ada Apa?

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) menyiapkan aksi korporasi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau right issue dengan rasio 4:1. Dana hasil aksi korporasi ini akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus membantu pelunasan obligasi yang jatuh tempo pada 2026.

Rencana tersebut disampaikan manajemen dalam tanggapan atas permintaan penjelasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Surat penjelasan dikirim Perseroan pada 6 Maret 2026 dan ditandatangani Presiden Direktur PT Anabatic Technologies Tbk, Harry Surjanto Hambali.

Dalam rencana right issue tersebut, setiap pemegang 4 saham lama berhak memperoleh 1 HMETD. Setiap 1 HMETD memberikan hak membeli 1 saham baru Perseroan.

Harga pelaksanaan right issue belum ditetapkan. Manajemen memberi indikasi harga akan berada di sekitar harga pasar dengan diskon untuk mendorong partisipasi investor.

Harga saham ATIC pada penutupan perdagangan 5 Maret 2026 tercatat Rp560 per saham dengan nilai nominal saham Rp100 per saham.

Pemegang saham utama, TIS Inc., tidak berencana mengambil bagian dalam pelaksanaan right issue tersebut. Keputusan tersebut diambil setelah perusahaan melakukan evaluasi atas investasi luar negeri, termasuk investasi di Anabatic.

Manajemen menjelaskan kepemilikan TIS Inc. sebelum aksi korporasi mencapai 37,28%. Jika hak HMETD tidak diambil, porsi kepemilikan akan terdilusi sekitar 7,67% menjadi sekitar 29,61%. Persentase tersebut masih memenuhi kriteria sebagai pemegang saham utama Perseroan.

Perseroan juga menghadapi kewajiban obligasi yang akan jatuh tempo pada 11 Juli 2026 dengan nilai sekitar Rp559,99 miliar. Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025, saldo kas dan setara kas tercatat Rp445,28 miliar.

Dari total kas tersebut, sekitar Rp120,57 miliar atau setara 27,08% akan digunakan untuk membantu pembayaran obligasi. Pelunasan juga didukung fasilitas Bank UOB sebesar Rp150 miliar serta perkiraan dana hasil PMHMETD sekitar Rp289,42 miliar.

Manajemen menegaskan strategi utama menjaga likuiditas dilakukan melalui optimalisasi kas internal dan pengelolaan arus kas operasional secara ketat.

“Perseroan berkeyakinan PMHMETD dapat mencapai target dana yang dibutuhkan untuk pelunasan obligasi,” tulis manajemen dalam penjelasan kepada BEI.

Jika dana hasil right issue tidak mencapai target, Perseroan tetap memiliki cadangan kas dan setara kas untuk menutup kekurangan pembayaran obligasi. Optimalisasi kas internal serta pengelolaan arus kas operasional menjadi langkah alternatif.

Sebagian dana hasil PMHMETD juga akan digunakan sebagai modal kerja. Salah satu alokasi utama adalah biaya gaji sekitar Rp60 miliar untuk periode Juli 2026 hingga Juni 2027.

Manajemen menilai right issue menjadi langkah strategis untuk memperkuat struktur permodalan tanpa menambah beban bunga pinjaman.

“Rencana PMHMETD akan mengubah komposisi sumber pendanaan dari berbasis utang menjadi berbasis ekuitas,” tulis manajemen.

Dengan pelunasan obligasi tersebut, rasio utang terhadap ekuitas (DER) diproyeksikan turun signifikan. Efisiensi biaya bunga juga berpotensi meningkatkan margin laba bersih Perseroan.

Hingga saat ini Perseroan belum menetapkan standby buyer untuk aksi korporasi tersebut. Beberapa pemegang saham eksisting telah menyatakan minat mengambil bagian dalam pelaksanaan HMETD. Perseroan juga masih melakukan komunikasi dengan calon investor baru.

Selain rencana right issue, Perseroan belum memiliki rencana aksi korporasi lain pada tahun 2026. Manajemen juga memastikan tidak terdapat informasi material lain yang belum disampaikan kepada publik terkait kondisi usaha Perseroan saat ini.

- Advertisement -

Artikel Terkait

BEI Catat 37 Emisi Obligasi Raup Rp41,41 Triliun, Ada 20 Penerbitan Baru Masuk Pipeline

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat aktivitas...

Tiga Emiten Raup Rp3,75 Triliun dari Rights Issue, Satu Perusahaan Properti Masih Antre

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada...

BEI Catat 7 Perusahaan dalam Pipeline IPO, Sektor Keuangan Paling Dominan

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru