Ketidakpastian Perang Iran Bayangi Pasar, Harga Emas Dunia Menguat ke USD 4.724

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia berakhir menguat pada perdagangan Jumat (24/4/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (25/4/2026) WIB. Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran inflasi yang terus berlanjut. Ketidakpastian mengenai status perang Amerika Serikat (AS) dan Iran juga membuat investor tetap waspada.

Mengutip CNBC International, harga emas spot naik 0,7% ke posisi USD 4.724,19 per ons troi. Sebelumnya, harga logam mulia ini sempat melonjak lebih dari 1% pada sesi tersebut. Di pasar berjangka AS, kontrak emas untuk pengiriman Juni ditutup menguat 0,4% menjadi USD 4.741,30 per ons troi.

Meski menguat pada akhir pekan, emas mencatatkan kerugian mingguan pertamanya dalam lima minggu terakhir. Sepanjang minggu ini, harga emas sudah merosot lebih dari 2%. Penguatan dolar AS dan kekhawatiran inflasi tinggi sepanjang Maret menjadi penekan utama permintaan emas.

Konflik di Timur Tengah saat ini tampak sedang menemui jalan buntu. Jalur pelayaran strategis Selat Hormuz hingga kini masih ditutup oleh pihak Iran. Hal ini terjadi meskipun serangan militer antar negara yang terlibat mulai berkurang.

Investor kini cenderung bereaksi terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump. Pernyataan Trump seringkali menyeimbangkan harapan kesepakatan damai dengan ancaman dimulainya kembali serangan. Kondisi ini membuat fluktuasi harga sangat bergantung pada berita utama yang muncul.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, diperkirakan tiba di Islamabad, Pakistan pada hari Jumat. Ia dijadwalkan membahas proposal untuk memulai kembali pembicaraan damai dengan AS. Namun, sumber pemerintah Pakistan menyebut Araqchi tidak dijadwalkan bertemu dengan negosiator AS.

Daniel Pavilonis, Senior Market Strategist di RJO Futures, memberikan analisanya. Ia menyebut pasar saat ini sangat sensitif terhadap setiap informasi terbaru.

“Ini benar-benar pasar yang didorong oleh berita utama karena semua ketidakpastian — berita utama saat ini tampaknya mendukung semacam perjanjian damai dengan Iran, pasar melihat situasi positif bersih saat ini. Energi juga sedikit menurun,” ujar Daniel Pavilonis.

Harga minyak dunia sedikit melandai pada akhir pekan. Namun, harga minyak telah melonjak sepanjang minggu ini akibat kegagalan rencana pembicaraan damai tahap kedua. Iran juga terus menunjukkan kontrol kuat atas Selat Hormuz.

Harga minyak yang tinggi berisiko memicu inflasi global. Kondisi ini meningkatkan peluang kenaikan suku bunga di masa depan. Giovanni Staunovo, analis dari UBS, menjelaskan kaitan kenaikan minyak dengan penurunan emas secara mingguan.

“Emas mengalami penurunan (minggu ini) karena harga minyak bergerak lebih tinggi, begitu juga ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, dolar, imbal hasil, semuanya berkorelasi,” kata Giovanni Staunovo.

Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun terpantau naik pada pekan ini. Kenaikan tersebut meningkatkan biaya peluang bagi investor untuk memegang emas. Di sisi lain, dolar AS mencatatkan kenaikan mingguan pertamanya dalam tiga minggu terakhir.

Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi para pembeli yang menggunakan mata uang selain USD. Hal ini turut membatasi ruang penguatan emas lebih lanjut.

Tren positif juga diikuti oleh logam mulia lainnya pada akhir pekan. Harga perak spot naik 0,6% menjadi USD 75,86 per ons troi. Platinum bertambah 0,7% ke posisi USD 2.019,53, sementara paladium melonjak 2,1% ke level USD 1.499,41 per ons troi.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Perundingan Damai Batal, Harga Minyak Dunia Melonjak 2% 

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak sekitar 2%...

Harga Emas Dunia Tergelincir, Ini Pemicunya

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dunia mengalami penurunan...

Tensi Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 3%

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak mentah dunia melonjak...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru