STOCKWATCH (JAKARTA) – PT DCI Indonesia Tbk (DCII) membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp377,75 miliar (Rp158 per saham) pada kuartal I 2026. Hasil ini turun 9,8% dibandingkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp418,84 miliar (Rp176 per saham) pada kuartal I 2025.
Menurut laporan keuangan DCII per 31 Maret 2026, dikutip Senin (27/4/2026), pendapatan bersih mengalami peningkatan sebesar 10,93% dari Rp773,55 miliar per Maret 2025 menjadi Rp858,10 miliar per Maret 2026.
Akan tetapi, peningkatan beban pokok pendapatan lebih besar dari pertumbuhan pendapatan, yaitu sebesar 46,76% dari Rp253,86 miliar menjadi Rp372,57 miliar. Hal ini mengakibatkan laba bruto DCII terpangkas 6,57% dari Rp519,69 miliar menjadi Rp485,53 miliar per Maret 2026.
Selain itu, beban pemasaran naik menjadi Rp1,30 miliar dari sebelumnya Rp772 juta. beban umum dan administrasi meningkat dari Rp24,23 miliar menjadi Rp32,26 miliar. Perseroan mencatat beban operasi lain Rp3,93 miliar. Hal ini menyebabkan laba usaha DCII terpangas 9,62% dari Rp496,80 miliar per Maret 2025 menjadi Rp449,02 miliar per maret 2026.
Beban keuangan DCII meningkat sekitar 53,83% dari Rp20,49 miliar menjadi Rp31,52 miliar. Akibatnya, laba sebelum pajak DCII tergerus sebesar 11,96% dari Rp476,99 miliar per Maret 2025 menjadi Rp419,96 miliar per maret 2026.
Sementara itu, total aset DCII naik 9,34% dari Rp6,64 triliun per 31 Desember 2025 menjadi Rp7,26 triliun per 31 Maret 2026. Total liabilitas DCII naik 8,7% dari Rp2,64 triliun menjadi Rp2,87 triliun. Adapun total ekuitas DCII meningkat 9,23% dari Rp4,01 triliun per 31 Desember 2025 menjadi Rp4,38 triliun per 31 Maret 2026.
