STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia berbalik sedikit menguat pada perdagangan Senin (11/5/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (12/5/2026) WIB. Kenaikan harga terjadi setelah melewati sesi perdagangan yang fluktuatif.
Mengutip CNBC International, harga emas spot naik 0,1% menjadi USD 4.717,38 per ons troi. Harga logam mulia ini sempat anjlok lebih dari 1% pada awal sesi perdagangan. Adapun harga emas berjangka AS ditutup nyaris tidak berubah pada posisi USD 4.727,80.
Investor saat ini sedang mencerna perkembangan diplomasi antara AS dan Iran. Pelaku pasar juga bersikap menanti rilis data inflasi penting AS pada minggu ini.
Jim Wyckoff, Analis Pasar di American Gold Exchange, memberikan ulasannya terkait pergerakan harga emas.
“Hanya ada beberapa aksi perburuan harga murah yang masuk dan penentuan posisi menjelang data inflasi AS minggu ini,” ujar Jim Wyckoff.
Fokus pelaku pasar kini tertuju pada Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang akan diumumkan pada hari Selasa. Laporan Indeks Harga Produsen (IHP) juga dijadwalkan rilis pada hari Rabu.
Dari sisi geopolitik, Presiden Donald Trump menolak dengan cepat tanggapan Iran atas proposal perdamaian AS. Keputusan ini memicu kekhawatiran baru di pasar global.
Konflik yang sudah berumur 10 minggu ini dikhawatirkan akan terus berlarut-larut. Situasi tersebut melumpuhkan pelayaran melalui Selat Hormuz dan sukses mendorong harga minyak melonjak lebih tinggi.
Trump sempat menyebut status gencatan senjata kedua negara dalam kondisi sangat lemah. Ia mengibaratkan kesepakatan tersebut sedang berada pada dukungan hidup.
Daniel Pavilonis, Ahli Strategi Pasar Senior di RJO Futures, menyoroti arah ekspektasi pelaku pasar saat ini.
“Pasar sebagian besar fokus pada ekspektasi di sekitar selat tersebut, khususnya apakah selat itu akan dibuka kembali, dan tampaknya mencerna skenario harga energi yang lebih tinggi,” kata Daniel Pavilonis.
Mandeknya negosiasi AS dan Iran yang mengerek harga minyak memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi inflasi yang tinggi bisa menahan suku bunga AS tetap tinggi lebih lama.
Berbagai perusahaan pialang global mulai memangkas ekspektasi pemotongan suku bunga AS. Sebelumnya, mereka memprediksi dua kali penurunan suku bunga tahun ini.
Perkiraan tersebut kini terbelah antara sedikit pelonggaran atau tidak ada pemangkasan sama sekali pada 2026. Perubahan ekspektasi ini didorong oleh risiko inflasi dan sikap kehati-hatian dari para pembuat kebijakan.
Emas cenderung berada di bawah tekanan meski memiliki daya tarik sebagai aset aman. Suku bunga yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil ini.
Pasar juga turut mengamati agenda kunjungan dua hari Trump ke China minggu ini. Ia dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Keduanya akan membahas berbagai isu krusial seperti Iran, Taiwan, kecerdasan buatan, serta senjata nuklir.
