STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia merosot pada perdagangan Kamis (21/5/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (22/5/2026) WIB. Penurunan harga ini terjadi akibat lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi.
Mengutip CNBC International, harga emas spot anjlok 1% menjadi USD 4.500,07 per ons troi. Di pasar berjangka AS, kontrak emas untuk pengiriman Juni ditutup turun 0,7% menjadi USD 4.502,90 per ons troi.
Sebelumnya, logam mulia ini sempat naik lebih dari 1% pada jam perdagangan AS hari Rabu. Pencapaian tersebut terjadi setelah harga menyentuh level terendah sejak 30 Maret.
Kondisi pasar berbalik arah setelah harga minyak mentah melonjak lebih dari 2%. Kenaikan ini merespons laporan Reuters terkait kebijakan terbaru dari Timur Tengah.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengeluarkan sebuah arahan ketat. Ia melarang pengiriman uranium tingkat senjata milik negaranya ke luar negeri.
Analis UBS Giovanni Staunovo memberikan pandangannya terkait dinamika pasar saat ini.
“Pada dasarnya, ini semua masih tentang negosiasi antara Iran dan AS dan dalam konteks itu, kita telah melihat sedikit ketidakpastian apakah kesepakatan dapat dicapai atau tidak, dengan itu, harga minyak semakin menekan emas,” kata Giovanni Staunovo.
Perintah Khamenei berpotensi membuat Presiden AS Donald Trump semakin frustrasi. Langkah ini juga dapat mempersulit pembicaraan untuk mengakhiri perang AS-Israel terhadap Iran.
Konflik yang meletus sejak akhir Februari lalu telah mengganggu lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Hal ini memicu lonjakan harga energi dan mengipasi kekhawatiran inflasi. Akibatnya, harga si kuning keemasan telah anjlok lebih dari 15% sejak perang dimulai.
Nilai tukar dolar AS juga bergerak naik merespons situasi tersebut. Kondisi ini membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang asing lainnya.
Imbal hasil obligasi Departemen Keuangan AS tenor 10 tahun turut melanjutkan kenaikannya. Kenaikan imbal hasil ini meningkatkan biaya peluang bagi investor untuk memegang emas.
Staunovo menambahkan analisisnya terkait dampak kenaikan harga energi terhadap kebijakan moneter.
“Meningkatnya harga minyak, yang mendorong inflasi lebih tinggi, menekan bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah atau bahkan berpotensi menaikkannya. Hal ini, dengan demikian, tetap menjadi hambatan bagi emas dalam waktu dekat,” tambah Staunovo.
Emas umumnya dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, logam mulia ini kerap kesulitan bersinar pada periode suku bunga tinggi.
Alat FedWatch CME menunjukkan adanya perubahan ekspektasi pasar. Pelaku pasar kini melihat peluang sebesar 58% untuk setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh bank sentral AS (Federal Reserve) tahun ini. Angka ini meningkat dari 48% pada hari sebelumnya.

