spot_img

Stock Futures Bergerak Datar, Wall Street Menunggu Kepastian dari Timur Tengah

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Saham berjangka (futures) Amerika Serikat bergerak mendatar pada perdagangan Minggu malam (31/5/2026) waktu setempat atau Senin pagi (1/6/2026) WIB. Wall Street bersiap memulai perdagangan bulan Juni setelah sebelumnya sukses mencetak rekor tertinggi.

Mengutip CNBC International pada Senin (1/6/2026), kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun tipis 30 poin. Sementara itu, saham berjangka S&P 500 (SPX) dan Nasdaq 100 terpantau stabil tanpa banyak perubahan.

Pasar baru saja menutup bulan Mei yang sangat kuat. Ketiga indeks utama mencatatkan keuntungan besar. Indeks Nasdaq memimpin kenaikan dengan lonjakan lebih dari 8% selama sebulan.

Indeks S&P 500 juga tumbuh sekitar 5% pada bulan lalu. Sedangkan indeks Dow Jones menambah kenaikan hampir 3%. Ketiga indeks ini mencapai rekor tertinggi baru pada penutupan Jumat lalu.

Gairah pasar muncul setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari. Presiden Donald Trump mengatakan akan segera membuat keputusan akhir di Situation Room. Ia menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Trump juga meminta agar Selat Hormuz segera dibuka kembali. Pelaku pasar melihat langkah ini sebagai tanda perdamaian.

Adam Crisafulli, pendiri Vital Knowledge, memberikan pandangannya terkait situasi ini. Ia menilai Trump sedang mencari jalan tengah untuk meredakan ketegangan.

“Trump jelas tidak ingin memperburuk keadaan dan sedang mencari jalan keluar,” ujar Crisafulli. “Beberapa jenis kesepakatan sangat mungkin terjadi, dan pasar sebagian besar mengasumsikan penghentian permusuhan yang berkelanjutan.”

Crisafulli menambahkan pengumuman resmi nantinya mungkin akan memicu aksi jual oleh investor. Strategi ini sering dikenal sebagai “sell the news” atau menjual saham saat berita positif benar-benar muncul.

Di pasar komoditas, harga minyak dunia mulai merangkak naik pada hari Minggu. Sebelumnya, harga minyak sempat turun pada hari Jumat. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,8% ke level 88,83 USD per barel.

Harga minyak Brent juga naik 1,5% menjadi 92,52 USD per barel. Sepanjang bulan Mei, harga minyak Amerika Serikat anjlok hampir 17%. Penurunan ini merupakan yang terdalam sejak April 2025.

Pekan ini, perhatian investor tertuju pada laporan data tenaga kerja (nonfarm payrolls) yang akan keluar hari Jumat. Data ini sangat penting untuk melihat kesehatan ekonomi Amerika Serikat. Investor juga menunggu petunjuk mengenai kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve ke depannya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Wall Street Tutup Mei dengan Rekor Baru, Saham Dell Melonjak 33% di Tengah Euforia AI

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Menguat, Bursa Eropa Kompak Parkir di Zona Hijau

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada...

Anomali Pasar Asia: Mengapa Kospi dan Topix Cetak Rekor Tertinggi Saat Tensi Geopolitik Memanas?

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru