spot_img

Black Diamond Resources (COAL) Balik Rugi Rp8,29 Miliar di Kuartal I 2026, Penjualan Nihil

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) mencatatkan kinerja keuangan yang kurang memuaskan pada awal tahun ini. Perseroan harus menanggung rugi bersih sebesar Rp8,29 miliar pada kuartal I 2026.

Kondisi ini berbanding terbalik dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Saat itu, COAL masih mampu mencetak laba bersih sebesar Rp5,39 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2026 yang dipublikasikan di laman Bursa, dikutip Minggu (7/6/2026), penurunan drastis ini dipicu oleh nihilnya angka penjualan. Sepanjang tiga bulan pertama 2026, Perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp0. Padahal, pada kuartal I 2025, COAL berhasil membukukan penjualan hingga Rp126,52 miliar.

Ketiadaan pendapatan membuat Perseroan tidak memiliki laba bruto untuk menutupi beban operasional. Sebagai perbandingan, laba bruto COAL pada periode tahun sebelumnya mencapai Rp19,74 miliar.

Meskipun tidak ada aktivitas penjualan, COAL tetap harus menanggung sejumlah biaya. Beban umum dan administrasi tercatat sebesar Rp4,84 miliar. Angka ini sebenarnya sudah ditekan 40,97% dibandingkan beban tahun lalu yang mencapai Rp8,20 miliar.

Selain itu, beban keuangan juga menekan kinerja Perseroan dengan nilai Rp2,87 miliar. COAL juga mencatat kerugian atas selisih kurs sebesar Rp595,30 juta, meski angka ini lebih kecil dibandingkan kerugian kurs tahun lalu yang sebesar Rp966,72 juta.

Di sisi lain, pendapatan keuangan Perseroan juga merosot tajam. Per Maret 2026, pendapatan bunga hanya terkumpul Rp5,64 juta, turun jauh dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar Rp72,07 juta.

Dari sisi neraca keuangan, kekuatan perusahaan masih terlihat dari nilai asetnya. Total aset COAL per 31 Maret 2026 tercatat sebesar Rp824,80 miliar. Angka ini tumbuh 2,71% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang sebesar Rp803,02 miliar.

Peningkatan aset ini didorong oleh kenaikan aset lancar menjadi Rp346,97 miliar dari sebelumnya Rp321,01 miliar. Sementara itu, aset tidak lancar tercatat sebesar Rp477,83 miliar.

Namun, jumlah liabilitas atau utang Perseroan juga mengalami kenaikan. Total liabilitas membengkak menjadi Rp466,94 miliar per Maret 2026, naik dari posisi akhir tahun 2025 yang sebesar Rp436,87 miliar. Utang bank jangka pendek menjadi salah satu komponen terbesar dengan nilai tetap Rp195 miliar.

Kenaikan utang dan adanya kerugian periode berjalan berdampak pada posisi ekuitas. Total ekuitas COAL menyusut menjadi Rp357,86 miliar per 31 Maret 2026, dibandingkan posisi 31 Desember 2025 yang sebesar Rp366,16 miliar.

Arus kas Perseroan juga tampak tertekan. Kas neto yang digunakan untuk aktivitas operasi mencapai Rp13,79 miliar. Hal ini menyebabkan posisi kas dan bank COAL pada akhir Maret 2026 tersisa Rp233,03 juta, merosot tajam dari posisi awal tahun yang masih sebesar Rp14,29 miliar.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Laba PGEO Melonjak 40%, Tiga Proyek Panas Bumi Kantongi Pendanaan Internasional USD477,87 Juta

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO)...

Austindo Nusantara Jaya (ANJT) Berbalik Rugi USD 59,58 Juta di 2025, Ini Penyebabnya

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT)...

Jadi Pengendali SUPA, Grab Genggam Lebih dari 50% Saham

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Grab kini resmi memegang kendali penuh atas...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru