STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street memerah pada perdagangan Selasa malam (9/6/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (10/6/2026) WIB. Penurunan ini terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke wilayah Iran.
Mengutip CNBC International, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq 100 keduanya merosot 0,2%. Sementara itu, kontrak berjangka yang terikat dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 88 poin atau setara 0,2%.
Serangan tersebut dilakukan sebagai bentuk pertahanan diri. Komando Pusat AS menyatakan langkah ini merupakan balasan atas jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS sehari sebelumnya. Presiden Donald Trump menuduh Iran menembak jatuh helikopter yang sedang berpatroli di atas Selat Hormuz itu.
Kondisi ini membuat harga minyak dunia kembali merangkak naik. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat sekitar 0,9% dan diperdagangkan mendekati level USD 89 per barel. Ketegangan terbaru ini mengancam gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara.
Pada perdagangan reguler hari Selasa, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) di Bursa Efek New York menguat 86,10 poin atau 0,17% ke level 50.872,11. Indeks S&P 500 (SPX) turun 0,26% dan berakhir di posisi 7.386,65. Sementara itu, indeks komposit Nasdaq (IXIC) melemah 0,97% menjadi 25.678,82.
Pelemahan indeks S&P 500 dan Nasdaq dipicu oleh aksi jual saham-saham chip. Sektor teknologi mengalami koreksi setelah sebelumnya sempat melonjak karena tren kecerdasan buatan (AI). Investor mulai mengantisipasi kenaikan harga yang sudah dianggap terlalu tinggi.
Marta Norton, Chief Investment Strategist Empower Investments, memberikan pandangannya terkait situasi pasar saat ini. Ia menyoroti pergerakan kuat pada sektor semikonduktor yang selama ini menopang bursa.
“Jika kita berbicara tentang inti dari apa yang kita lihat selama beberapa minggu terakhir, hal itu benar-benar terkonsentrasi di area memori dan semikonduktor yang mengangkat pasar. Itu telah menjadi kekuatan nyata di balik segalanya, dan sungguh itu sudah melaju sangat kencang sehingga terasa sangat berada di puncak saat ini,” ujar Norton dalam wawancara dengan CNBC.
Norton menambahkan belum bisa memastikan adanya penurunan fundamental yang serius. Namun, ia melihat sentimen pasar sudah sangat jenuh. Hal tersebut memicu terjadinya koreksi pada harga saham.
Kini pelaku pasar sedang menunggu data ekonomi terbaru. Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Mei akan dirilis pada Rabu pagi waktu setempat. Konsensus memprediksi inflasi tahunan akan berada di angka 4,2%.
Jika prediksi ini tepat, inflasi akan melewati ambang batas 4% untuk pertama kalinya sejak Mei 2023. Angka ini juga akan menjadi capaian tertinggi sejak April tahun itu. Selain data inflasi, laporan keuangan perusahaan ritel Chewy juga dinantikan investor sebelum bel pembukaan perdagangan hari Rabu.

